Tradisi Kolak Ayam Sanggring 501 Tahun di Gumeno, Bupati Yani Tegaskan Identitas Sosial dan Religi Gresik

oleh -6 Dilihat
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani saat meninjau pembuatan Kolak Ayam Sanggring di Gumeno
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani saat meninjau pembuatan Kolak Ayam Sanggring di Gumeno. (Foto: Ist)

KabarBaik.co, Gresik – Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani meninjau langsung proses pembuatan Kolak Ayam atau Sanggring di area Masjid Jami’ Sunan Dalem, Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Kamis (12/3).

Tradisi kuliner khas Ramadan tersebut telah berlangsung selama sekitar 501 tahun dan menjadi bagian dari warisan budaya Islam di Gresik.

Dalam kesempatan itu, Yani mengapresiasi keberlanjutan tradisi Sanggring yang hingga kini masih dilestarikan oleh masyarakat Desa Gumeno.

Menurut dia, kolak ayam bukan sekadar sajian untuk berbuka puasa, tetapi juga memiliki makna spiritual yang erat dengan sejarah dakwah Sunan Dalem, putra Sunan Giri.

“Sejarah kolak ayam berawal dari kebiasaan Sunan Dalem yang membuat masakan ini sebagai obat untuk mengobati sakitnya saat membuat Masjid di Desa Gumeno dalam menyebarkan Islam. Resep tersebut ternyata mujarab karena bisa menyembuhkan sakitnya Sunan Dalem termasuk warga sekitar,” tuturnya.

Yani menegaskan, tradisi ratusan tahun ini perlu terus dijaga sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat setempat. Selain sebagai kuliner warisan leluhur, hidangan kolak ayam juga dipercaya memiliki khasiat bagi kesehatan.

“Tradisi kolak ayam sebagai wujud apresiasi serta melestarikan budaya peninggalan Sunan Dalem. Salah satu tokoh penyebar agama islam di pesisir utara Gresik sekitar 1541 Masehi,” terang Gus Yani, sapaan akrabnya.

Ia juga mengajak generasi muda di Desa Gumeno untuk terus mengenal dan memahami tradisi tersebut agar tetap bertahan di tengah perkembangan Gresik sebagai kota industri.

“Tahun 2019 tradisi ini telah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak benda Indonesia (WBTbI) oleh pemerintah, yang memperkuat identitas sosial dan religi masyarakat Gresik,” tandasnya.

Setiap malam ke-23 Ramadan, masyarakat Gumeno secara gotong royong memasak kolak ayam dalam jumlah besar. Tahun ini, pembuatan hidangan tersebut menggunakan 240 ekor ayam, 225 kilogram bawang daun, 525 butir kelapa, 650 kilogram gula merah, dan 50 kilogram jinten bubuk.

Sebanyak 3.000 porsi kolak ayam disiapkan untuk para tamu dan masyarakat yang datang menyaksikan tradisi tahunan tersebut.(*)

 

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.link yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.