KabarBaik.co, Jakarta- Ciri-ciri pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Ketua KontraS, Andrie Yunus, dianggap sejumlah kalangan sebetulnya sudah relatif terang. Bahkan, boleh jadi polisi sudah mengantongi identitasnya. Berdasarkan hasil penelusuran rekaman CCTV, jejak para pelaku diketahui menyebar hingga ke wilayah Bogor. Toh, sempai sekarang pelaku tak kunjung dibekuk hingga menyisakan tanya besar bagi publik.
Sebelumnya, Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya dalam keterangannya kepada wartawan mengungkapkan, dari hasil penyelidikan, pelaku penyerangan bukan hanya dua orang. Tapi, kemungkinan ada empat orang yang terlibat langsung di lapangan. Rekaman CCTV di sejumlah titik di Jakarta yang memiliki resolusi tinggi turut membantu polisi mengidentifikasi ciri-ciri para pelaku.
“Jejak terakhir pelaku terdeteksi hingga kawasan Kalibata, Ragunan, dan bahkan sampai Bogor. Kami masih terus mengumpulkan alat bukti dan menganalisis data yang ada,” ujar pihak kepolisian.
Meski identitas pelaku mulai terpetakan, polisi hingga kini belum melakukan penangkapan dan masih menunggu hasil uji laboratorium forensik. Barang bukti seperti helm, pakaian, serta wadah cairan yang digunakan pelaku sedang diperiksa untuk mencari sidik jari maupun DNA.
Sementara itu, Fadhil Alfathan, tim kuasa hukum Andrie Yunus, menyatakan bahwa serangan tersebut bukan tindakan kriminal biasa. Mereka menduga kuat ada perencanaan matang dan keterlibatan pihak yang lebih besar di balik aksi tersebut. Berdasarkan analisis bersama sejumlah ahli hukum pidana, forensik, dan medikolegal, serangan ini mengarah pada percobaan pembunuhan berencana.
“Metode yang digunakan, yakni penyiraman air keras ke bagian vital seperti wajah dan kepala, menunjukkan adanya niat serius untuk menghilangkan nyawa korban,” ujarnya kepada awak media.
Fadhil menambahkan, pihaknya juga meragukan bahwa pelaku merupakan warga sipil biasa. Tingkat koordinasi dalam memperoleh, menyimpan, hingga mengeksekusi serangan dinilai terlalu rapi untuk dilakukan secara spontan. “Sulit membayangkan aksi seterorganisir ini dilakukan oleh sipil biasa. Kami menduga ada aktor intelektual dan kemungkinan juga pihak pendana di baliknya,” tegasnya.
Tragedi ini pun kini menjadi sorotan, dengan desakan agar aparat penegak hukum tidak hanya menangkap pelaku lapangan, tetapi juga mengungkap dalang utama di balik penyerangan terhadap aktivis tersebut. Suara itu juga menggema di gedung DPR RI. (*)









