KabarBaik.co, Lamongan – Di sebuah masjid sederhana di kawasan pesisir Paciran, Lamongan langkah itu bermula. Tanpa banyak kata, tanpa pemahaman mendalam, hanya mengikuti gerakan orang di depan—rukuk, sujud, lalu duduk kembali.
Namun justru dari gerakan-gerakan sunyi itulah, hati Ipda Andreas Dwi Anggoro bergetar.
Ia tak menyangka, pengalaman singkat itu perlahan mengubah arah hidupnya.
Perwira pertama Polri yang kini bertugas di Polres Gresik itu awalnya hanya ingin mencoba. Saat berdinas di Polsek Paciran, ia melihat salat bukan sekadar ritual, melainkan ketenangan yang sulit dijelaskan.
“Waktu itu saya tidak tahu apa-apa. Hanya mencontoh gerakan orang. Tapi di situ saya merasakan sesuatu… ada kedamaian, merasa dekat dengan Tuhan,” kenangnya.
Saat itu, Andreas masih memeluk agama Nasrani. Namun lingkungan tempat tinggalnya yang mayoritas muslim justru menjadi ruang hangat yang tak menghakimi. Ia diterima, diajak, bahkan tanpa sadar ikut larut dalam kebiasaan.
Termasuk saat Ramadan tiba.
Di rumah kosnya, sahur bukan lagi aktivitas asing. Ia ikut bangun dini hari, makan bersama, lalu menjalani puasa—meski belum sepenuhnya memahami maknanya.
“Teman-teman puasa, saya ikut saja. Sahur bareng, rasanya kebersamaannya kuat sekali,” ujarnya.
Dari kebiasaan sederhana itu, rasa ingin tahu tumbuh. Perlahan, Andreas mulai membuka diri. Lingkungan kerjanya yang sering menghadirkan tokoh agama untuk bimbingan rohani semakin memperkuat langkahnya.
Sampai suatu hari, ia membuat rekan-rekannya terkejut.
Ia meminta dicarikan guru mengaji.
“Teman saya bilang, ‘kamu kan Nasrani’. Tapi saya bilang, ini keinginan saya sendiri,” tuturnya sambil tersenyum mengingat momen itu.
Jejak Islam sebenarnya bukan hal baru dalam hidup Andreas. Ia tumbuh dengan sentuhan nilai-nilai Islam dari kakek dan neneknya yang muslim. Benih itu mungkin telah lama ada—hanya menunggu waktu untuk tumbuh.
Hingga akhirnya, pada 2019, ia mantap mengucap syahadat di MUI Kebomas.
Namun perjalanan itu belum sepenuhnya selesai.
Bagian tersulit justru datang setelahnya: menyampaikan keputusan besar itu kepada orang tua.
Butuh waktu satu tahun bagi Andreas untuk mengumpulkan keberanian. Ia menimbang, menata kata, sekaligus menyiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.
Hingga akhirnya, ia berbicara.
“Alhamdulillah, orang tua saya bisa memahami. Tidak ada penolakan,” ucapnya, lega.
Kini, perjalanan spiritual itu terus berlanjut. Di sela tugasnya sebagai Kanit Kamsel Satlantas Polres Gresik, ia masih terus belajar.
Mengeja huruf demi huruf Alquran, memperdalam pemahaman, memperkuat iman. Menariknya, ia belajar langsung dari sosok terdekat: istrinya sendiri.
Bagi Andreas, menjadi muslim bukan garis akhir. Justru itu adalah awal dari perjalanan panjang, tentang memahami, menjalani, dan menjaga keyakinan.
Dari gerakan tanpa kata di sebuah masjid kecil, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia cari sebelumnya: ketenangan yang nyata.(*)






