Anak Buah Berulah, Jenderal Kena Getah: Sosok Kepala BAIS TNI Letjen Yudi Abrimantyo

oleh -253 Dilihat
KABAIS TNI

KabarBaik.co, Jakarta — Karier cemerlang yang dibangun puluhan tahun di medan operasi dan telik sandi, harus menemui titik puncaknya dalam sebuah pertanggungjawaban moral. Letnan Jenderal (Letjen) TNI Yudi Abrimantyo, Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, resmi menyerahkan tongkat komandonya per 25 Maret 2026.

Bukan karena masa purnatugas, melainkan langkah ksatria mengambil alih tanggung jawab komando atas keterlibatan oknum prajuritnya dalam kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus. Anak buah berulah, sang jenderal pun rela pasang badan dan menanggung getahnya.

Lantas, seperti apa rekam jejak jenderal bintang tiga ini sebelum pusaran kasus tersebut menghentikan langkahnya di BAIS TNI?

Dari Baret Merah ke Telik Sandi

Lahir dan ditempa dari rahim satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus), Yudi adalah representasi perwira intelijen tempur tulen. Sebagai abituren Akademi Militer (Akmil) tahun 1989 dari kecabangan Infanteri, jalur kariernya terbilang spesifik dan sunyi.

Tidak seperti perwira TNI-AD pada umumnya yang kerap singgah di jabatan komando kewilayahan, Yudi justru menghabiskan masa perwira menengahnya di pusaran operasi khusus dan intelijen (Sandi Yudha). Keahliannya meramu informasi strategis membuatnya lebih banyak “bekerja dalam bayangan” ketimbang tampil di publik.

Kariernya semakin melesat ketika memasuki struktur perumusan kebijakan strategis tingkat nasional. Beberepa posisi krusial yang pernah diembannya antara lain Paban Utama A-5 Dit A BAIS TNI (2016–2018) yang bertugas mengolah produk intelijen strategis domestik, dan Bandep Urusan Sosial Budaya di Setjen Wantannas (2018–2020) yang memperluas analisisnya ke ranah sosial-budaya nasional.

Setelahnya, dari 2020 hingga 2024, Yudi mengabdi di Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI, mulai dari Sesditjen Strahan hingga menjabat sebagai Kepala Badan Instalasi Strategis Pertahanan (Kabainstrahan).

Puncak dedikasinya terukir pada Maret 2024 saat Yudi dipromosikan menjadi Letnan Jenderal sekaligus dipercaya Panglima TNI untuk memimpin BAIS TNI, lembaga intelijen tertinggi di tubuh militer Indonesia.

Di balik jabatan strategisnya, profil finansial Yudi tercatat stabil dan bebas dari catatan merah. Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) ke KPK pada 31 Desember 2024, dia melaporkan total kekayaan sebesar Rp 8,49 miliar tanpa memiliki utang sepeser pun.

Sebagian besar asetnya berada dalam bentuk tanah dan bangunan senilai Rp 4,9 miliar yang berstatus “hasil sendiri” dan tersebar di wilayah Jakarta Timur, Bogor, serta Bekasi. Selain itu, ia juga memiliki kas dan setara kas sebesar Rp 2,39 miliar. Hartanya tercatat naik perlahan namun wajar sejak kali pertama melaporkan kekayaan pada tahun 2018 (Rp 2,73 miliar).

Akhir Sebuah Tanggung Jawab Komando

Meski memiliki rekam jejak yang bersih dan cemerlang di bidang strategi pertahanan, karier Yudi di BAIS TNI harus ditutup dengan insiden yang mencoreng institusi. Getah yang harus ditanggung sang jenderal bermula dari peristiwa kelam pada Kamis malam, 12 Maret 2026.

Malam itu, Andrie Yunus, menjadi korban penyiraman air keras di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Peristiwa keji itu terjadi seusai korban mengisi sebuah siniar di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) yang membahas topik sensitif mengenai remiliterisme dan judicial review.

Berdasarkan penyelidikan Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI dan kepolisian, aksi tersebut rupanya tidak dilakukan oleh sembarang orang, melainkan kuat dugaan melibatkan pembuntutan terencana oleh empat oknum prajurit aktif yang bernaung di bawah Detasemen Markas (Denma) BAIS TNI.

Ironisnya, para pelaku mayoritas merupakan perwira pertama. Komandan Puspom TNI, Mayjen Yusri Nuryanto, telah mengonfirmasi penahanan keempat oknum tersebut. Yakni, Kapten NDP, Lettu SL, Lettu BHW, dan seorang bintara berinisial Serda ES.

Keempatnya diketahui bukan berasal dari matra darat, melainkan gabungan dari personel TNI Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Saat ini, mereka telah dijebloskan ke sel tahanan Puspom TNI untuk menjalani proses penyidikan militer secara intensif.

Menanggapi peristiwa kelam yang mencoreng institusi negara tersebut, Presiden Prabowo Subianto angkat bicara dengan nada geram. Saat merespons pertanyaan jurnalis senior Najwa Shihab dalam sebuah sesi diskusi di Hambalang pada pertengahan Maret lalu, Prabowo dengan tegas mengutuk serangan terhadap Andrie Yunus.

“Ini adalah terorisme, iya kan? Ini tindakan biadab, harus kita kejar. Harus kita usut,” tegas Prabowo.

Kepala Negara itu menjamin tidak akan ada impunitas bagi siapa pun yang terlibat, meski mereka berseragam aparat keamanan negara. Prabowo menginstruksikan jajaran penegak hukum untuk mengusut kasus ini hingga ke akar-akarnya, tak sekadar menghukum para prajurit eksekutor di lapangan, tetapi juga memburu tuntas aktor intelektual di baliknya.

“Harus kita usut sampai siapa yang nyuruh, siapa yang bayar. Ya jelas dong [kalau pelakunya dari aparat], tidak akan [ada impunitas]. Saya menjamin!” pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.link yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.