KabarBaik.co — Fenomena fatherless, atau hilangnya peran ayah dalam kehidupan anak, semakin menjadi sorotan. Kepala Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBPPPA) Kabupaten Gresik Titik Ernawati, menilai kondisi ini bisa menjadi pintu masuk menuju krisis baru yang lebih kompleks seperti motherless.
“Sekarang kita banyak menemukan anak-anak kehilangan figur ayah. Tapi ke depan, bukan tidak mungkin yang terjadi adalah motherless, ketika ibu pun mulai tidak hadir secara emosional dalam kehidupan anak karena banyak sekarang wanita yang menjadi wanita karier,” kata Titik, Rabu (9/4).
Fenomena fatherless menurutnya paling sering ditemukan pada anak-anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) dan anak-anak lain yang tumbuh tanpa kelekatan emosional dengan ayah mereka. Dinas KBPPPA Gresik memandang hal ini sebagai ancaman serius terhadap kualitas tumbuh kembang anak di masa depan.
Untuk merespons hal itu, Dinas KBPPPA tengah menggencarkan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI). Melalui gerakan ini, para calon ayah diberi edukasi mengenai pentingnya peran ayah dalam mendampingi anak sejak dini. “Kami ingin membentuk kesadaran bahwa ayah bukan sekadar pencari nafkah, tapi juga figur emosional yang punya pengaruh besar dalam perkembangan anak,” ujarnya.
Namun, Titik juga mengingatkan bahwa kekhawatiran tidak hanya berhenti pada sosok ayah. Munculnya tren ibu bekerja tanpa disertai dukungan sistem pengasuhan yang kuat bisa memunculkan generasi baru yang tak mengenal kedekatan dengan ibunya. “Saat ini belum sampai ke tahap itu, karena budaya patriarki masih membuat laki-laki lebih dominan di ranah publik, dan perempuan lebih banyak di domestik. Tapi kita perlu waspada,” kata Titik.
Ia menegaskan bahwa anggapan tradisional tersebut tidak lagi relevan. Baik ayah maupun ibu harus berbagi peran secara adil dan setara. “Keduanya sama-sama punya peran kunci, dan jika salah satunya abai, dampaknya bisa sangat besar,” ujarnya.
Dengan GATI dan berbagai upaya lain, Dinas KBPPPA berkomitmen membangun ekosistem keluarga yang sehat, adil, dan peduli terhadap perkembangan anak. Sebab, generasi yang tumbuh tanpa figur orang tua yang utuh berpotensi menjadi generasi yang rapuh—baik secara emosi, sosial, maupun moral.(*)








