KabarBaik.co – Pembangunan jalan rigid beton di Kabupaten Bojonegoro selama empat tahun terakhir disayangkan Wakil Ketua DPRD Bojonegoro, Sukur Prianto. Sebab, proyek pembangunan jalan rigid beton sepanjang 662 kilometer kurang berdampak terhadap perekonomian masyarakat.
Hal tersebut didasarkan atas data Badan Pusat Statistik Kabupaten Bojonegoro yang mencatat jumlah penduduk miskin di Kabupaten Bojonegoro pada Maret 2023 mencapai 153,25 ribu jiwa. Jumlah ini menurun sebesar 150 jiwa bila dibandingkan dengan kondisi Maret 2022 sebesar 153,40 ribu jiwa.
“Beberapa hal yang perlu digaris bawahi, pembangunan jalan rigid beton yang dibangun sampai ratusan kilometer secara berturut-turut itu masih minim keterlibatan masyarakat,” tegas Sukur Prianto, Sabtu (6/7).
Menurut Sukur, minimnya keterlibatan masyarakat lokal dalam pengerjaan proyek harus menjadi evaluasi Pemkab Bojonegoro. Dalam merencanakan program seharusnya berdampak langsung pada peningkatan taraf hidup masyarakat.
“Program pemerintah yang paling utama targetnya adalah membantu meningkatkan perekonomian masyarakat. Jadi tata kelola dan model penganggarannya harus seperti yang diharapkan masyarakat,” ungkap Sukur.
Jika tata kelolanya kurang tepat, lanjut Sukur, maka dampak positif dari pembangunan tidak akan berpengaruh besar dalam pengurangan kemiskinan. Apalagi secara teknis peningkatan jalan beton lebih banyak menggunakan alat berat dan minim tenaga kerja.
Anggota DPRD Bojonegoro empat periode itu menilai siklus perputaran uang dari program pemerintah harus bisa menembus banyak lapisan. Mulai dari tingkat atas hingga masyarakat paling bawah. ”Dalam peningkatan betonisasi ini siklus perputaran uang hanya berada di tataran atas,” tegas politisi Demokrat itu.
“Masyarakat lokal tidak terlibat secara maksimal. Uang yang berputar di masyarakat Bojonegoro ini tidak lebih dari 5 persen atau tidak lebih dari Rp500 juta per kilometernya,” tutur Sukur.
Sukur menyebut, pembangunan jalan rigid beton juga harus diimbangi dengan adanya investor yang mengembangkan bisnis mereka di Kabupaten Bojonegoro. Dengan adanya investor luar yang masuk diharapkan mampu menyerap angka pengangguran yang masih cukup tinggi di Kabupaten Bojonegoro. (*)









