Konservasi Lontar Sritanjung Banyuwangi Dapat Dukungan Manassa dan Unesco

oleh -4 Dilihat
lontar
Koordinator Bidang Preservasi MANASSA saat melakukan konservasi naskah.

KabarBaik.co – Proses konservasi Naskah kuno Lontar Sri Tanjung di Banyuwangi mendapat dukungan dari Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA) Pusat, MANASSA Komisariat Banyuwangi–Jember, serta UNESCO melalui The Asia/Pacific Regional Committee for the Memory of the World Program (MOWCAP Project), program internasional yang didedikasikan untuk melestarikan warisan dokumenter dunia.

Lontar Sritanjung merupakan salah satu karya sastra klasik Nusantara yang sarat makna. Karya tersebut berasal dari Kabupaten Banyuwangi.

Ketua MANASSA, Dr. Munawar Holil atau Kang Mumu mengatakan program konservasi akan berlangsung pada 30 Agustus–5 September 2025 dengan melibatkan tim ahli konservasi naskah dari Perpustakaan Nasional RI serta jejaring akademisi.

Naskah yang dikonservasi merupakan koleksi Omahseum Banyuwangi. Tahapan konservasi dilakukan dengan pembersihan kering, perbaikan kerusakan struktural, penguatan bahan naskah, hingga penataan ulang penyimpanan sesuai standar internasional.

Proses konservasi dipimpin oleh Aris Riyadi, Koordinator Bidang Preservasi Naskah Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA). Menariknya, kegiatan ini juga melibatkan komunitas lokal, seperti Komunitas Pegon yang aktif melestarikan aksara tradisional, serta Pesinauan – Sekolah Adat Osing yang sejak lama mengajarkan generasi muda tentang budaya Osing. Dispusip Banyuwangi turut berperan dalam mendukung kegiatan ini sesuai dengan tupoksinya.

Sekitar 30 peserta dari masyarakat adat Osing, pelajar SMA, mahasiswa, hingga pegiat budaya mengikuti lokakarya konservasi naskah. Mereka tidak hanya menyaksikan proses konservasi, tetapi juga belajar teknik dasar perawatan lontar, sehingga terjadi transfer pengetahuan langsung dari para ahli kepada komunitas lokal.

“Usai tahap konservasi, kegiatan dilanjutkan dengan pertunjukan seni dan lokakarya pada 6 September, serta pameran publik di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Banyuwangi pada 6–12 September 2025,” kata dia.

Selama proses konservasi, masyarakat dapat mengunjungi untuk menyaksikan tahapannya. Proses itu untuk memberi ruang publik untuk lebih dekat dengan warisan dokumenter yang sebelumnya banyak dikenal di lingkar akademis.

Tak hanya itu, kegiatan ini juga menghadirkan pertunjukan seni yang mengangkat interpretasi kisah Sri Tanjung. Pementasan menggabungkan pembacaan naratif, tembang tradisional, tarian kontemporer, dan alunan biola. Cara ini menghubungkan teks kuno dengan ekspresi seni generasi kini, sekaligus menghidupkan kembali narasi budaya dalam wujud yang segar.

“Konservasi ini tidak hanya menjaga naskah agar tetap lestari, tetapi juga menjadi cara untuk memuliakan memori kolektif bangsa yang hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.

UNESCO melalui Program Memory of the World menegaskan bahwa warisan dokumenter tidak kalah penting dibanding warisan budaya berwujud seperti candi, tarian, atau musik tradisional. Dokumen, naskah, arsip, dan manuskrip adalah saksi bisu perjalanan bangsa yang menyimpan memori kolektif lintas generasi.

Dengan dukungan UNESCO, konservasi Lontar Sri Tanjung menjadi bagian dari gerakan global merawat warisan intelektual dan spiritual umat manusia.

“Pelestarian warisan dokumenter seperti Sri Tanjung membantu kita memahami masa lalu, memperkaya masa kini, sekaligus membayangkan masa depan dengan ikatan budaya yang lebih kuat,” tuturnya.

Koordinator Pelaksana Program, Wiwin Indiarti menambahkan Lontar Sri Tanjung bukanlah naskah biasa. Pada 2024, Perpustakaan Nasional RI menetapkannya sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON) Indonesia—pengakuan resmi terhadap posisinya sebagai warisan dokumenter penting bagi sejarah dan identitas bangsa.

Naskah ini menceritakan perjalanan spiritual seorang perempuan bernama Sri Tanjung yang menghadapi fitnah, penderitaan, dan ujian kesetiaan. Cerita tersebut merefleksikan nilai moral, keteguhan hati, serta spiritualitas yang berakar pada kebudayaan Banyuwangi. Bahkan, legenda ini diyakini menjadi asal muasal nama Banyuwangi, dari kisah Sri Tanjung yang menjelma menjadi air harum setelah wafat—banyu wangi atau banyu arum.

“Nilai simbolis inilah yang menjadikan Lontar Sri Tanjung bukan sekadar teks sastra, melainkan juga pondasi identitas kultural masyarakat Banyuwangi. Melalui konservasi, teks ini diharapkan tetap terjaga, dipelajari, dan dihidupkan kembali dalam kehidupan sehari-hari,” terangnya.

Dosen Universitas PGRI Banyuwangi sekaligus Ketua AMAN Osing itu berharap program ini mampu mendorong kesadaran masyarakat untuk terlibat dalam konservasi sejarah.

“Dengan keterlibatan pemuda, pelajar, masyarakat adat, dan komunitas lokal, konservasi ini menjadi bagian dari pendidikan praktis sekaligus penanaman rasa bangga terhadap warisan budaya,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.link yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Ikhwan
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.