KabarBaik.co – Kasus dugaan pelecehan seksual yang terjadi di bus di Surabaya mendapat atensi DPRD Surabaya. Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya Imam Syafi’i menyatakan keprihatinan mendalam atas keberanian pelaku yang nekat beraksi di ruang publik yang ramai penumpang.
Imam menyayangkan meski pelaku saat ini telah diamankan di Polsek Genteng setelah sempat dimassa warga, proses hukum belum bisa ditingkatkan ke status tersangka. Kendalanya, hingga saat ini belum ada laporan resmi dari pihak korban.
“Kami berharap pelaku bisa diproses hukum supaya ada efek jera. Sayangnya, informasi dari Polsek menyebutkan status pelaku belum bisa jadi tersangka karena belum ada laporan dari korban,” ujar Imam saat memberikan keterangan, Kamis (8/1).
Siap Berikan Pendampingan dan Perlindungan
Imam mendorong korban maupun orang tua korban untuk tidak takut melapor. la menjamin akan ada pendampingan penuh, baik dari dirinya pribadi maupun dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Surabaya.
“Korban tidak perlu malu. Kalau mau minta didampingi, saya siap. Atau jika ingin lebih nyaman, kami koordinasikan dengan DP3A. Di sana ada psikolog yang siap memberikan pendampingan jika ada trauma psikologis,” tegasnya.
Bahkan, Imam menawarkan opsi agar pemeriksaan dilakukan di tempat yang membuat korban nyaman tanpa harus mendatangi kantor polisi.
“Biar pihak kepolisian dan DP3A yang datang ke tempat korban. Yang penting ada keterangan, saksi, dan alat bukti yang cukup agar status pelaku bisa naik jadi tersangka,” imbuhnya.
Warning untuk Operator Bus Surabaya
Selain mendesak proses hukum, Imam juga memberikan peringatan keras (warning) kepada Pemkot Surabaya, khususnya dinas terkait dan operator Bus Surabaya. la menekankan bahwa keselamatan penumpang perempuan dan anak harus menjadi prioritas utama.
“Ini peringatan karena pelaku sudah berani bergentayangan di angkutan umum pada jam ramai. Kami minta keselamatan dan kenyamanan di semua angkutan umum, terutama Bus Surabaya, ditingkatkan,” kata Imam.
Menurut Imam, jika kasus seperti ini terus berulang tanpa penanganan yang tegas, citra Surabaya sebagai kota ramah perempuan dan anak akan tercoreng. la khawatir ketakutan masyarakat untuk menggunakan transportasi umum akan berdampak luas, termasuk bagi para pendatang yang berkunjung ke Surabaya.
“Jangan sampai penumpang jadi takut naik bus. Kita harus pastikan Surabaya tetap aman agar tidak ada lagi kejadian yang bisa membuat orang takut datang ke kota ini,” pungkasnya. (*)






