Tiga Perempuan Muda, Satu Mutilasi Kejam, Dua Mayat Terbuang di Sumur Gelap

oleh -16 Dilihat
TIGA KORBAN scaled
Tiga korban semasa hidup. Mereka menjadi pembunuhan sadis dengan pelaku Satria Johanda. (Foto IST/Medsos)

KabarBaik.co- Dalam sepekan terakhir, publik di Sumatera Barat (Sumbar) gempar. Seorang perempuan muda, Septia Adinda, ditemukan dalam kondisi begitu memilukan. Tubuhnya sudah tidak lagi utuh. Kepala, tangan, dan kakinya terpisah dari badan. Belakangan terungkap, perempuan 25 tahun ini tewas karena dibunuh. Ngerinya lagi, Septia merupakan korban ketiga. Ini kasus besar pembunuhan serial.

Cerita mengerikan itu berawal pada Selasa (17/6) pagi, saat seorang nelayan melihat sesosok tubuh terdampar di tepi Sungai Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumbar. Tidak ada identitas, tidak ada wajah. Hanya tubuh yang mengambang diam, meninggalkan misteri dan duka.

Keesokan harinya, Rabu (18/6), warga giliran menemukan potongan kaki. Berjarak sekitar 3 kilometer dari lokasi penemuan pertama. Masih di hari yang sama, bagian kepala ditemukan di lokasi berbeda, yaitu di kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Padang Sarai, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, sekitar 6 kilometer dari lokasi awal.

Potongan-potongan tubuh tersebut akhirnya dirangkai menjadi satu. Identitas tidak langsung diketahui. Polisi masih melakukan penyelidikan dan uji forensik. Akhirnya identitas itu terungkap. Bukan dari wajah. Tapi, dari sebuah cincin kecil yang masih melingkar di jarinya. Ada temannya yang tahu dan hapal betul. Ia adalah Septia Adinda.

Cincin itu tidak dijual bebas. Dibuat secara khusus, dipesan secara personal. Hanya Septia yang memilikinya. Kesedihan yang membatu selama berhari-hari pun berubah menjadi air mata kepastian yang menyayat. Septia berpulang dengan cara terlalu kejam untuk diceritakan.

Septia bukan perempuan biasa. Ia pernah kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Keuangan Perbankan dan Pembangunan (STIE KBP) Padang sejak 2018, mengambil jurusan Manajemen. Meski statusnya sempat tercatat nonaktif pada periode 2024–2025, bukan berarti semangat hidupnya meredup. Ia dikenal mandiri, mencoba menjalankan usaha sendiri, dan membangun jejaring kecil untuk bertahan hidup. Seperti banyak anak muda lainnya, Septia berjuang dalam keterbatasan, namun tetap menyimpan harapan untuk masa depan.

Namun, siapa sangka, kepercayaan yang diberikan pada seseorang temannya, justru menjadi awal dari kejatuhannya. Polisi mengungkap bahwa pelaku mutilasi terhadap Septia adalah Satria Johanda alias Wanda, pemuda 25 tahun, warga Batang Anai. Hubungan keduanya bukan pasangan, bukan saudara, hanya sebatas teman yang pernah terlibat dalam urusan utang-piutang.

Kepada wartawan, Kapolres Padang Pariaman AKBP Ahmad Faisol Amir menjelaskan bahwa Wanda merasa sakit hati karena utangnya Rp 3,5 juta tidak dibayar, meski sudah berkali-kali ditagih. Nah, rasa sakit hati itulah yang menurut pengakuan Wanda menjadi alasan ia menghabisi nyawa Septia dengan cara yang tidak bisa dibayangkan oleh nalar.

Wanda ditangkap d irumahnya pada Kamis (19/6) dini hari, sekitar pukul 02.00. Penangkapan itu menjadi awal dari pengungkapan yang jauh lebih besar dan gelap. Pembunuhan berseri (serial murder). Setelah diinterogasi polisi, Wanda mengaku bukan hanya membunuh Septia. Namun, juga dua perempuan muda lainnya.

Kejadiannya sekitar satu tahun lalu. Kedua korban itu bernama Siska Oktavia Rusdi atau akrab dipanggil Cika, 23 tahun, dan Adek Gustiana, 24. Sama seperti Septia, mereka pun pernah menjadi mahasiswi di kampus STIE KBP Padang. Mereka bertiga memiliki latar belakang mirip-mirip. Perempuan muda berpendidikan, sedang mencari jalan hidup, dan semua bertemu ajal di tangan orang yang sama.

Jasad Cika dan Adek juga ditemukan dalam kondisi tragis. Tubuhnya terbuang di dalam sebuah sumur tua di Pasar Usang, Padang Pariaman. Sumur itu gelap, tak terawat, nyaris tak dikunjungi orang. Polisi bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan tim lainnya menggali dan mengevakuasi tulang-belulang yang tersisa. Butuh waktu dan kehati-hatian untuk mengangkatnya dari kegelapan itu. Tapi, setidaknya kini mereka sudah ditemukan. Tak lagi dibungkam oleh tanah, setelah setahun terakhir dilaporkan hilang tanpa kabar.

Yang membuat hati makin hancur adalah kabar duka susulan, yang datang bersamaan dengan pengungkapan jenazah korban di sumur itu. Ibu dari salah satu korban dikabarkan pingsan saat menuju lokasi. Tak lama kemudian meninggal dunia lantaran tak kuat menerima kenyataan memilikan itu. Bahwa anaknya benar-benar telah tiada. Kematian yang selama ini hanya berstatus orang hilang menjadi hantaman terakhir bagi hati seorang ibu yang sudah terlalu lama menunggu. Duka dalam satu waktu. Satu karena tindak keji kejahatan, satu karena kesedihan yang tak tertahankan.

Kini, publik pun mulai bertanya-tanya. Apakah benar hanya tiga korban? Atau ada lebih banyak lagi kisah yang belum terungkap? Polisi masih melakukan penyelidikan lebih lanjut. ‘’Masih terus kami dalami perkara ini,’’ kata Kapolres.

Sejauh ini, masih banyak tabir gelap. Mengapa pelaku bisa melakukan kekejaman ini lebih dari sekali? Bagaimana Wanda bisa menyembunyikan kebiadaban itu semua selama ini? Apakah ada orang lain yang membantu? Atau justru masyarakat terlalu mudah mempercayai wajah-wajah yang tampak biasa? Yang jelas, kisah ini bukan hanya tentang pembunuhan. Ini tentang kepercayaan yang disalahgunakan, tentang luka yang ditinggalkan oleh orang yang dikenali.

Septia Adinda, Siska Oktavia, dan Adek Gustiana bukan sekadar nama dalam daftar korban tindak kejahatan. Mereka adalah anak, sahabat, mahasiswi, dan perempuan muda yang seharusnya memiliki masa depan. Tapi, semuanya direnggut oleh satu tindakan brutal yang menghapus tiga kehidupan sekaligus.

Masyarakat Sumbar, Indonesia, teurut berduka. Tidak hanya karena ngeri oleh tindakan mutilasi itu sendiri, melainkan karena kehilangan generasi muda yang semestinya dapat tumbuh dan turut memberi warna bangsa. Mereka yang telah tiada, kini hanya bisa dikenang. Tapi, kisahnya harus terus disuarakan agar tak ada lagi Septia lain, agar tak ada lagi perempuan muda yang harus menghadapi maut dari tangan-tangan si bedebah. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.link yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi


No More Posts Available.

No more pages to load.