Perang Terus Bergejolak: Dari Mesin Pompa Bensin hingga Harga Nasi Ayam di Singapura Melejit

oleh -26 Dilihat
SPBU SINGAPURA
Ilustrasi

KabarBaik.co, Singapura – Di balik deretan gedung pencakar langit yang membelah cakrawala Singapura, ada ketegangan yang merayap di setiap sudut stasiun pengisian bahan bakar (SPBU). Gejolak perang di Timur Tengah yang melibatkan Iran vs Amerika Serikat-Israel bukan lagi sekadar tajuk berita internasional bagi penduduk setempat. Namun, hal itu kini menjelma menjadi angka-angka digital yang dirasakan mulai mencekik di papan harga bensin.

Per pertengahan Maret 2026, harga bahan bakar minyak (BBM) di Singapura resmi mencatat sejarah baru. Bukan lagi sekadar naik, harga bensin di negara tetangga Indonesia ini telah “terbang” melampaui puncak krisis energi tahun 2022 lalu. Bagi para komuter yang melintasi jalan raya CTE atau AYE, melihat angka di mesin pompa kini memerlukan helaan napas panjang.

Bayangkan, untuk satu liter bensin Octane 95, warga Singapura kini harus merogoh kocek hingga SGD 3.45. Jika dikonversikan ke rupiah, angka itu menembus Rp 40.900 per liter. Bagi mereka yang menggunakan kendaraan mewah dengan spesifikasi Octane 98 atau bensin premium kelas atas, harganya bahkan sudah menyentuh angka psikologis SGD 4.14 atau sekitar Rp 49.000.

Secara kasar, mengisi tangki mobil berkapasitas 50 liter di Singapura saat ini memerlukan dana hampir Rp 2,5 juta. Tentu sebuah angka yang setara dengan biaya sewa apartemen subsidi di beberapa negara kawasan.

Di Negeri Singa, memang tidak punya pilihan. Singapura tidak memiliki sumber daya alam. Mereka sepenuhnya bergantung pada pasar global. Maka, ketika stabilitas Selat Hormuz yang menjadi jalur nadi aliran 20 persen pasokan minyak dunia, Singapura adalah salah satu negara pertama yang merasakan “demamnya”.

Tanpa subsidi pemerintah seperti yang dinikmati warga Indonesia melalui Pertalite, harga bensin di SPBU Shell, Esso, hingga Caltex di Singapura bergerak liar mengikuti grafik harga minyak Brent yang kini berkisar di angka USD 115 per barel.

Dampaknya mulai merembet ke segala sektor. Para pengemudi taksi dan mitra ojek daring mulai mengeluhkan margin keuntungan yang tergerus habis hanya untuk memberi “makan” kendaraan mereka. Biaya logistik yang membengkak juga mulai mengerek harga kebutuhan pokok di pasar-pasar tradisional dari Jurong hingga Tampines.

Kenaikan tersebut menciptakan jurang perbedaan yang cukup kontras dengan Indonesia. Jika di Jakarta masyarakat masih bisa bernapas dengan harga BBM non-subsidi di kisaran Rp 14.000 hingga Rp 16.000, di seberang selat, warga Singapura harus membayar hampir tiga kali lipat lebih mahal untuk kualitas bahan bakar yang sama.

Pemerintah Singapura melalui Consumers Association of Singapore (CASE) terus memantau situasi melalui aplikasi Price Kaki, mencoba memberikan transparansi di tengah badai harga. Namun, selama dentuman Meriam dan rudal di Timur Tengah belum juga mereda, papan harga di SPBU Singapura tampaknya masih akan terus menyala dengan angka-angka merah yang menakutkan.

Reaksi warga Singapura di jagat maya pun menjadi cermin kegelisahan yang nyata. Meski angka di rekening mereka mungkin lebih besar dari rata-rata warga regional, keluhan yang muncul menunjukkan bahwa “batas kesabaran” mereka terhadap biaya hidup mulai mencapai puncaknya. Pada sejumlah obrolan mereka, muncul tren diskusi tentang warga yang memilih memarkir mobilnya di garasi dan beralih total ke MRT.

“Dulu, punya mobil itu merupakan simbol status, sekarang punya mobil itu seperti punya lubang hitam di dompet. Mengisi bensin sekali saja sudah seperti membayar cicilan handphone baru.” tulis salah seorang pengguna.

Banyak netizen yang menyindir status Singapura sebagai salah satu negara terkaya, namun warganya harus berhitung keras hanya untuk bepergian. “Gaji kita mungkin naik 3 persen, tapi bensin naik 25 persen dalam sebulan karena perang yang jaraknya ribuan kilometer dari sini. Siapa yang sebenarnya menang?”

Topik seputar harga bensin di Malaysia, juga kerap menjadi pemicu perdebatan panas ketika BBM sedang tidak baik-baik saja. Ada rasa “iri” yang dibalut komedi terkait subsidi di Malaysia.     “Saya melihat teman saya di Johor Bahru memposting foto struk bensinnya yang penuh hanya dengan RM 90 (Rp 300 ribuan). Saya di sini menghabiskan SGD 170 (Rp 2 jutaan) dan tangki saya bahkan belum benar-benar penuh.”

Bagi warga Singapura, indikator ekonomi paling nyata bukan hanya bensin. Tapi, harga sepiring Nasi Ayam (Chicken Rice) di pusat kuliner. “Bensin naik, ongkos truk naik, harga ayam naik. Sekarang tidak ada lagi nasi ayam seharga SGD 3.50.Selamat datang di era nasi ayam SGD 5.50 (Rp 65 ribu)!”

Kini, di layar ponsel warga Singapura, notifikasi berita perang di Timur Tengah terus bermunculan. Namun, bagi mereka, dampak nyata perang itu tidak terdengar dari dentuman bom, melainkan dari bunyi ‘klik’ mesin pompa bensin yang berhenti di angka ratusan dolar, serta keluhan pelan di meja-meja pusat kuliner saat harga makan siang kembali naik.

Dunia kini terus menanti. Apakah diplomasi mampu mendinginkan Selat Hormuz, ataukah warga Singapura harus mulai terbiasa melihat harga bensin menembus angka Rp 50.000 per liter dalam waktu dekat? Demikian juga dengan sejumlah negara lain, belakangan juga makin waswas. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.link yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.