KabarBaik.co – Jauh dari keramaian, ada masjid di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Gresik yang diyakini sebagai masjid tertua di Pulau Jawa. Yakni Masjid Syekh Maulana Malik Ibrahim atau dikenal dengan Masjid Pesucinan.
Masjid ini memiliki keunikan dengan adanya kolam dan sumur kuno sejak zaman Syekh Maulana Malik Ibrahim yang masih eksis sampai hari ini.
Masjid Pesucinan ini berada di Desa Leran. Dari Jalan Raya Manyar masuk ke arah tikungan Leran. Kemudian mengikuti jalan kurang lebih 2,5 kilometer.
Nanti ada gapura besar melengkung dengan tulisan Situs Masjid Syekh Maulana Malik Ibrahim. Masuk dan belok kanan sedikit, sudah terlihat Masjid Syekh Maulana Malik Ibrahim yang dekat dengan tambak.
Masjid ini masih menyimpan sejumlah bentuk bangunan lawas. Masih ada bekas langgar kecil di dalam masjid yang masih dilestarikan. Lengkap dengan kolam untuk berwudhu.
Kolam untuk berwudhu ini berukuran 3×3 dengan kedalaman kurang lebih 2,5 meter. Berada di dalam area masjid karena adanya pemugaran.
Syekh Maulana Malik Ibrahim sendiri datang sekitar tahun 1389 Masehi. Ia merupakan wali tertua dari Wali Songo. Dasar itulah yang mendasari klaim Masjid Pesucinan sebagai yang tertua di Tanah Jawa.
“Beliau membawa kapal dagang bersama para santri bersama para pengawal, bersama para sahabatnya bersandar di pelabuhan Leran, dulu ada pelabuhan kecil, baratnya masjid ini,” kata Mushollin, Ketua Takmir Masjid Syekh Maulana Malik Ibrahim, Maret lalu.
Saat itu, Syekh Maulana Malik Ibrahim salat istikhoroh lalu mendirikan masjid untuk tempat ibadah, mendirikan asrama pondok sebelah barat masjid.
Oleh sebab itu, tempat ibadah umat Islam ini dinamakan Masjid Syekh Maulana Malik Ibrahim di Pesucinan. Pesucinan merupakan tempat kolam untuk wudhu di sini. Biasanya disebut Cinan, tempat wudhunya Syekh Maulana Malik Ibrahim.
Mushollin menambahkan, saat pertama melihat masjid ini, kolam wudhu pesucinan ada di luar masjid. Namun setelah ada renovasi beberapa kali, ada perluasan juga.
“Akhir tahun 2023 dirombak tetapi tidak mengubah bentuk orisinilnya,” ujarnya.
Di samping masjid tersebut juga terdapat sumur kuno. Namun kondisinya saat ini telah ditutup menggunakan keramik.
Sekarang, masjid yang aksesnya cukup jauh dari jalan besar itu dipakai untuk aktivitas ibadah masyarakat sekitar.
Banyak yang datang untuk menggali sejarah besar berdirinya Masjid Pesucinan. Termasuk menjajal air kolam peninggalan Syekh Maulana Malik Ibrahim. (*)






