KabarBaik.co, Nganjuk – Dumbleg, makanan tradisional khas Nganjuk yang terbuat dari campuran tepung ketan, gula jawa, dan santan, kini semakin sulit ditemukan. Bergesernya tren kuliner dengan munculnya berbagai jenis makanan modern, membuat kudapan yang dulu banyak dijual di alun-alun dan pasar tradisional kini hampir menghilang.
“Dulu kalau beli di alun-alun, sekarang sudah tidak ada lagi, tidak tahu kenapa,” ujar Izza, ibu rumah tangga dari Loceret yang kerap membeli dumbleg sebagai oleh-oleh untuk keluarga di Surabaya, Sabtu (14/3).
Seperti Izza, banyak warga Nganjuk yang mengaku kesulitan menemukan camilan yang menyajikan paduan rasa manis dan gurih khas ini. Hanya beberapa tempat tertentu yang masih menyediakannya, menjadikan dumbleg semakin langka di tengah masyarakat.
“Dumbleg memiliki rasa yang tidak terlalu manis dan tekstur yang lembut, berbeda dengan dodol atau jenang yang umumnya manis dan bertekstur padat serta keras,” ungkap Izza yang telah mengenal dumbleg sejak kecil.

Yang membuat dumbleg berbeda dari jajanan tradisional lainnya adalah kemasan unik yang menjadi ciri khasnya. Setiap potongan dumbleg dilapisi dengan pelepah pinang yang dijahit menggunakan tali rafia, bukan hanya praktis untuk dibawa dan disajikan, tetapi juga mencerminkan kearifan lokal yang peduli pada kelestarian lingkungan.
“Penggunaan pelepah pinang sebagai kemasan memang menjadi ciri khas sendiri, sehingga dumbleg tidak hanya menarik dari segi rasa tetapi juga dari cara penyajiannya,” tambah Izza saat menceritakan tentang kudapan asli daerahnya.
Dumbleg Nganjuk memiliki dua varian rasa yang khas yaitu merah dan putih. Dumbleg merah dibuat dengan menambahkan gula merah yang memberikan warna khas dan rasa yang lebih kaya, sedangkan dumbleg putih menggunakan gula pasir sehingga menghasilkan rasa yang lebih ringan dan segar. Kedua varian ini menawarkan pengalaman kuliner yang berbeda sesuai dengan selera masing-masing.
“Saya tanya teman katanya di pasar Gondang masih ada, Ndak tahu di Nganjuk ini dimana,” tutur Izza yang berharap dumbleg bisa kembali mudah ditemukan dan terus dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan kuliner Nganjuk. (*)








