KabarBaik.co – Pemprov Jatim terus mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna meminimalisir dampak cuaca ekstrem di penghujung tahun 2025 dan menyambut awal tahun 2026. Hingga akhir Desember ini, tercatat Pemprov Jatim telah melaksanakan OMC sebanyak 103 kali.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menjelaskan bahwa langkah ini diambil sebagai bentuk kehadiran pemerintah dalam memberikan rasa aman bagi masyarakat, terutama dalam menjaga stabilitas logistik dan harga bahan pokok di tengah musim libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
“Harapan kita ini bisa meringankan beban masyarakat untuk memenuhi kebutuhan logistik rumah tangga. Di daerah seperti Surabaya, langkah ini akan memberikan signifikansi terhadap stabilisasi harga dan pengendalian terhadap stabilisasi harga dan pengendalian inflasi,” ujar Khofifah, Jumat (26/12).
Keterbatasan Anggaran dan Rencana Penambahan Sorti
Berdasarkan data BMKG, Khofifah memperingatkan bahwa puncak curah hujan diprediksi terjadi pada Januari 2025 dengan intensitas mencapai 58%, jauh lebih tinggi dibandingkan Desember yang berada di angka 20%.
Saat ini, Pemprov Jatim rutin melakukan OMC sebanyak dua sorti setiap hari hingga 31 Desember. Namun, Khofifah mengakui jumlah tersebut masih terbatas jika dibandingkan dengan kebutuhan intervensi di lapangan, terutama saat arah siklon muncul.
“Seharusnya kita lakukan intervensi lima sorti, namun karena keterbatasan anggaran Pemprov, saat ini hanya bisa dua sorti sehari. Untuk Januari, kami sedang berkoordinasi dengan BPK mengenai penggunaan dana Belanja Tak Terduga (BTT) agar intervensi OMC bisa dilakukan lebih dari dua sorti,” jelasnya.
Langkah antisipatif ini krusial mengingat intensitas hujan pada Januari diprediksi mencapai 300 hingga 400 mm/detik, menyerupai kondisi cuaca yang memicu bencana di Aceh dan Sumatera beberapa waktu lalu.
Terkait ketersediaan pangan, Khofifah menjamin stok bahan pokok di Jawa Timur dalam kondisi sangat aman menghadapi libur tahun baru hingga memasuki masa Ramadan dan Idul Fitri mendatang. la berharap masyarakat tetap tenang dan menjaga kerukunan agar Jawa Timur tetap “guyub rukun” di tengah tantangan cuaca ekstrem. (*)









