KabarBaik.co, Jakarta — Jalan menuju Piala Dunia 2026 telah merenggut begitu banyak mimpi. Termasuk Republik Indonesia. Namun, bagi delapan negara Eropa, penderitaan hingga kini masih belum berakhir.
Dalam hitungan hanya beberapa jam, tepatnya 31 Maret atau 1 April WIB, mereka akan menjalani babak paling mendebarkan. Empat partai final play-off, yang hanya mengenal satu kata. Hidup atau mati.
Dari total 48 peserta yang sudah mengantongi tiket sebanyak 42 negara. Tersisa 6 tempat di pesta sepak bola terbesar sejagad yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Tiket tersisa itu bakal ditentukan melalui final play-off antarbenua. Dan, perhatian dunia tertuju pada Eropa, kawasan yang menyumbang 12 tim otomatis dan kini harus menyisihkan 8 tim untuk memperebutkan 4 slot terakhir.
Nah, di antara delapan negara itu, satu tim tampaknya membawa beban sejarah paling berat. Yakni, Italia. Empat tahun lalu, Italia sudah gagal melangkah ke Piala Dunia setelah tumbang di play-off melawan Makedonia Utara. Hebohlah rakyat di negeri Pizza ketika itu.
Trauma tersebut belum juga usai. Kini, skuad Italia harus bertandang ke Zenica untuk menghadapi Bosnia-Herzegovina, tim yang tidak punya apa-apa untuk rugi, tetapi segalanya untuk dimenangkan. Karena itu, duel tersebut menjadi ujian mental, nyali, dan hati. Tentu saja, bagi Gli Azzuri, laga itu bukan hanya sekadar untuk bermain, melainkan bertahan hidup. Meredam potensi amuk publik bola Italia.
Sebelumnya, pada Jumat dini hari, Italia melangkah ke final plyoff setelah menang atas Irlandia Utara dengan skor 2-0. Pelatih timnas Italia Gennaro Gattuso mengakui skuadnya sempat kesulitan saat menghadapi Irlandia Utara, meski akhirnya menang. “Laga itu sama sekali tidak mudah.,” ujar Gattuso dikutip dari laman resmi Federasi Sepak Bola Italia (FIGC).
Menurut Gattuso, performa negatif tim terlihat pada babak pertama, di mana anak asuhnya tidak mampu mencetak gol, walaupun terus menekan lawan. Namun, pada babak kedua timnya sukses menaikkan tempo dan mengalirkan bola lebih cepat yang pada akhirnya mampu mencetak dua gol.
“Saya sempat mendengar siulan dari suporter di stadion pada paruh pertama. Namun, ketika laga selesai, kami mendapatkan tepuk tangan. Saya berterima kasih kepada suporter kami di Bergamo dan seluruh Italia. Kini saatnya fokus ke final,” tegasnya.
Pencetak gol kedua Italia ke gawang Irlandia Utara, Moise Kean, juga menyoroti dukungan luar biasa dari para penggemar. Dia senang dengan hasil yang diraih. Akan tetapi, dia meminta rekan-rekannya untuk fokus karena laga final yang sudah di depan mata.
“Kami harus tetap rendah hati dan fokus. Masih ada satu pertandingan lagi yang lebih penting. Dukungan fan sangat membantu kami di momen krusial, luar biasa bisa bermain di depan mereka,” kata penyerang berusia 26 tahun itu.
Tidak ada yang lebih dramatis selain melihat Italia yang nanti seperti bermain dengan pisau di leher. Jika kalah, maka tiga Piala Dunia berturut-turut akan absen. Jelas, sebuah kemunduran yang tak terbayangkan bagi negara dengan empat bintang di dadanya. Jika mereka menang, euforia akan meledak, tetapi belum berakhir. Mereka hanya kembali ke panggung dunia, belum menjadi juara.
Tiga Duel Lain Tak Kurang Panas
Namun, Italia bukan satu-satunya raksasa yang harus berkeringat dingin. Tiga partai lain juga menyajikan intensitas yang tak kalah sengit.
- Swedia vs Polandia, di Stadion Friends Arena, Stockholm — 31 Maret
Duel klasik kualifikasi edisi lalu kembali terulang. Swedia, yang tampil impresif di semifinal, akan menjamu Polandia. Robert Lewandowski, yang mungkin ini adalah kesempatan terakhirnya untuk tampil di Piala Dunia, siap menghancurkan mimpi tuan rumah.
- Kosovo vs Turki, Stadion Fadil Vokrri, Pristina — 31 Maret
Inilah kuda hitam yang paling ditakuti. Kosovo, yang baru diakui FIFA pada 2016, berambisi membuat sejarah dengan lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya. Didukung atmosfer fanatik di Pristina, mereka akan menghadapi Turki—tim dengan pengalaman turnamen berlimpah, tetapi juga dihantui inkonsistensi.
- Republik Ceko vs Denmark, Stadion Eden, Praha — 1 April
Dua tim dengan generasi emas yang sama-sama haus prestasi. Denmark, yang konsisten di turnamen besar dalam satu dekade terakhir, harus waspada terhadap kekuatan kolektif Ceko yang bermain di kandang. Laga taktis yang bisa ditentukan oleh satu kesalahan kecil.
Sementara itu, dua tiket terakhir lainya akan diperebutkan melalui play-off antarbenua pada 31 Maret di Meksiko. Empat tim yang tersisa, yaitu DR Kongo vs Jamaika dan Irak vs Bolivia, juga siap bertarung habis-habisan untuk melengkapi daftar 48 peserta Piala Dunia 2026. Namun, sorotan utama tetaplah pada drama di Eropa, di mana nama-nama besar bisa tumbang dalam 90 menit.
—
42 Tim yang Sudah Lolos Piala Dunia 2026
Tuan rumah (CONCACAF)
- Amerika Serikat
- Kanada
- Meksiko
CONCACAF (non-tuan rumah)
- Panama
- Haiti
- Curacao
Asia (AFC)
- Australia
- Iran
- Jepang
- Yordania
- Qatar
- Arab Saudi
- Korea Selatan
- Uzbekistan
Afrika (CAF)
- Aljazair
- Tanjung Verde
- Mesir
- Ghana
- Pantai Gading
- Maroko
- Senegal
- Afrika Selatan
- Tunisia
Amerika Selatan (CONMEBOL)
- Argentina
- Brasil
- Kolombia
- Ekuador
- Paraguay
- Uruguay
Oseania (OFC)
- Selandia Baru
Eropa (UEFA – lolos otomatis)
- Austria
- Belgia
- Kroasia
- Inggris
- Prancis
- Jerman
- Belanda
- Norwegia
- Portugal
- Skotlandia
- Spanyol
- Swiss






