KabarBaik.co, Washington — Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus mengeluarkan pernyataan kontroversial. Terbaru, dia menyebut para pemimpin Iran sebagai “penjahat yang gila secara mental”. Bahkan dia mengatakan membunuh mereka akan menjadi “kehormatan besar” baginya.
Pernyataan kontroversial tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran global atas eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Iran yang kini memasuki fase lebih berbahaya.
Dalam unggahan di platform Truth Social pada Jumat (13/3), Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat sedang “menghancurkan rezim teroris di Iran secara total”. Dia juga kembali mengklaim bahwa kekuatan militer Iran telah mengalami kehancuran besar, khususnya angkatan laut dan angkatan udaranya.
Trump kemudian membanggakan kekuatan militer negaranya. “Kami memiliki daya tembak yang tak tertandingi, amunisi tanpa batas, dan waktu yang cukup,” tulisnya.
Presiden AS itu juga secara terbuka mengancam para pemimpin Iran dengan mengatakan: “Perhatikan apa yang akan terjadi pada para penjahat gila itu hari ini.”
Di tengah retorika keras tersebut, seperti dilaporkan Aljazeera, Pentagon mengungkapkan bahwa biaya perang dengan Iran dalam minggu pertama saja telah mencapai sekitar 11,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp 190 triliun. Dari jumlah itu, 5,6 miliar dolar AS di antaranya dihabiskan hanya dalam dua hari pertama serangan udara, memicu kekhawatiran bahwa konflik berkepanjangan dapat menguras persediaan senjata militer Amerika Serikat.
Trump juga menuduh Iran telah membunuh orang-orang tak bersalah di berbagai belahan dunia selama 47 tahun terakhir, merujuk pada Revolusi Iran 1979. Dalam pernyataan yang kembali menuai kontroversi, ia menambahkan:
“Sekarang saya membunuh mereka sebagai presiden ke-47 Amerika Serikat. Betapa besar kehormatan itu!”
Pemimpin G7 Desak Trump Akhiri Perang
Di tengah meningkatnya ketegangan, para pemimpin negara-negara G7 dilaporkan mendesak Trump agar segera mengakhiri perang dengan Iran. Situs berita Axios melaporkan bahwa dalam pertemuan virtual pada Rabu lalu, Trump mengatakan kepada para pemimpin G7 bahwa Iran hampir menyerah.
Namun ia juga mengakui situasi kepemimpinan di Iran saat ini tidak jelas.
“Tidak ada yang tahu siapa pemimpin di Iran, jadi tidak ada yang bisa menyatakan penyerahan diri,” ujarnya.
Axios mengutip tiga sumber dari G7 yang menyatakan bahwa seluruh pemimpin kelompok tersebut menekankan pentingnya mengakhiri konflik secepat mungkin serta mengamankan Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
Percakapan antara Trump dan para pemimpin G7 berlangsung di tengah kekhawatiran besar mengenai dampak ekonomi dari perang tersebut. Kanselir Jerman, Perdana Menteri Inggris, dan Presiden Prancis juga disebut mendesak Trump untuk mencegah Rusia memanfaatkan konflik ini demi kepentingannya.
Konflik Internal di Gedung Putih
Sementara itu, kantor berita Reuters mengungkap adanya perpecahan di dalam Gedung Putih terkait cara menyampaikan perkembangan perang kepada publik. Perbedaan pandangan ini memengaruhi pesan-pesan yang disampaikan Presiden Trump mengenai arah konflik dengan Iran.
Reuters mengutip seorang penasihat presiden serta sejumlah pihak yang mengetahui diskusi internal tersebut bahwa sebagian pejabat pemerintahan memperingatkan tentang dampak ekonomi dari perang, terutama potensi lonjakan harga bahan bakar.
Namun di sisi lain, faksi garis keras dalam pemerintahan justru mendorong Trump untuk terus melanjutkan operasi militer terhadap Teheran.
Sumber yang mengetahui pembahasan internal itu juga menyebut bahwa dalam diskusi tertutup Trump menegaskan ketidakinginannya untuk menarik diri terlalu cepat dari konflik. Ia menekankan pentingnya “menyelesaikan misi”.
Beberapa pembantunya bahkan menyarankan agar perang diakhiri dengan cara yang dapat dipresentasikan sebagai sebuah kemenangan politik, meskipun sebagian besar pemimpin Iran masih tetap selamat.
Sebelumnya, Trump meluncurkan operasi militer terhadap Iran pada 28 Februari dengan berbagai target besar. Namun dalam beberapa hari terakhir ia mulai menurunkan ambisi tujuan operasi tersebut dan menggambarkannya sebagai kampanye militer terbatas yang diklaim telah mencapai sebagian besar sasarannya. (*)








