KabarBaik.co, Serang,- Bayangkan seekor Badak Jawa yang tangguh, mengenakan ikat kepala khas masyarakat Baduy, sambil memegang pena dan tas bertuliskan “Pers”. Inilah Si Juhan, maskot Hari Pers Nasional (HPN) 2026. Nama Juhan merupakan akronim dari Jurnalis Handal.
Maskot tersebut terinspirasi dari ketangguhan Badak Jawa dan nilai-nilai luhur masyarakat Baduy, yang merepresentasikan pers yang adaptif, berintegritas, dan berkelanjutan. Di balik sosoknya, terkandung makna mendalam. Yakni, simbol pers yang kuat menghadapi gempuran disinformasi dan transformasi digital.
Dengan tema “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”, perayaan HPN 2026 menjadi panggilan bagi insan pers untuk memperkuat peran mereka sebagai salah satu pilar bangsa, termasuk pilar ekonomi nasiona. Terutama di tengah dominasi media sosial dan perkembangan kecerdasan buatan.
Rangkaian HPN 2026 berlangsung 6–9 Februari 2026 di Provinsi Banten, dengan puncak acara pada 9 Februari di Serang. Kick-off HPN sudah digelar sejak 30 November 2025 di Alun-Alun Kota Serang, menandai Banten sebagai tuan rumah. Presiden Prabowo Subianto direncanakan hadir, menambah semarak acara yang selalu melibatkan ribuan wartawan dari seluruh Indonesia.
Acara HPN tidak hanya seremonial. Ada retret PWI dengan tema memperkuat pers profesional, ziarah ke makam pahlawan pers, hingga Kemah Budaya “Belajar Kearifan Baduy” pada 16–17 Januari yang sudah diikuti puluhan wartawan dan sastrawan.
Selain itu, ada Anugerah Kebudayaan PWI akan diberikan kepada kepala daerah yang berhasil bersinergi dengan media dalam memajukan budaya inklusif dan berkelanjutan.
Di tengah isu terkini seperti regulasi media digital dan ancaman hoaks, HPN 2026 menjadi momentum krusial. “Ini saatnya pers Indonesia bangkit, sehat secara fisik, mental, dan ekonomi, untuk bangsa yang lebih kuat,” ujar Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir.
Rangkaian semarak peringatan HPN 2026 di Banten klik [di sini]. Namun, agenda itu sewaktu-waktu bisa berubah menyesuaikan situasi dan kondisi.
Perjuangan dan Inspirasi untuk Generasi Muda
Bayangkan Indonesia, tahun 1946. Baru setahun merdeka, bangsa ini masih berjuang mempertahankan kemerdekaan dari serangan Belanda dan Sekutu. Di tengah kekacauan itu, sekelompok orang berdiri dengan pena di tangan, ide di kepala, dan semangat yang menyala.
Mereka adalah wartawan-wartawan Indonesia, yang menyadari bahwa perang bukan hanya di medan fisik, tapi juga di ranah informasi.
Pada 9 Februari 1946, mereka berkumpul di Surakarta, dalam sebuah kongres yang kelak akan menjadi tonggak sejarah pers Indonesia. Dari kongres itulah kemudian lahir Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), organisasi wartawan pertama yang bersifat nasional. Saat itu, PWI menjadi bagian dari simbol tekad bahwa pers Indonesia harus bebas, independen, dan bertanggung jawab, menjadi pilar demokrasi yang kokoh.
Tokoh-tokoh yang memimpin langkah itu antara lain Raden Mas Sumanang Suriowinoto, ketua pertama PWI, dan Sudarjo Tjokrosisworo, sekretaris pertama. Nama-nama lain seperti Sjamsuddin Sutan Makmur, B.M. Diah, Sumatoro, Ronggo Danukusumo, Djawoto, dan Harsono Cokroaminoto, menandai babak baru pers Indonesia. Mereka bukan sekadar menulis berita, melainkan menulis sejarah bangsa.
Perjuangan tersebut tidak muncul tiba-tiba. Sejak era kolonial, tokoh-tokoh seperti Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo telah membuka jalan dengan surat kabar Medan Prijaji, media yang berani menentang ketidakadilan kolonial dan membangkitkan kesadaran nasional. Setiap artikel, setiap opini yang mereka tulis adalah upaya untuk memberdayakan rakyat melalui informasi.
Penetapan 9 Februari sebagai Hari Pers Nasional secara resmi baru terjadi pada 23 Januari 1985, melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 5 Tahun 1985. Tanggal ini mengabadikan dan menghargai jasa pers yang telah meneguhkan suara rakyat, mengawal demokrasi, dan menjadi penggerak kemajuan bangsa.
Hari ini, di era media sosial dan kecerdasan buatan (AI), tantangan pers mungkin berbeda. Namun, misinya tetap sama. Pers adalah penjaga informasi yang akurat, kritis, dan berintegritas.
Bagi Gen Z dan Milenial, sejarah 9 Februari adalah pengingat bahwa informasi yang kita konsumsi dan bagikan membentuk bangsa ini. HPN bukan hanya milik wartawan, melainkan juga milik semua yang peduli akan kebenaran, demokrasi, dan masa depan bangsa. (*)








