KabarBaik.co – Menjelang Hari Raya Kupatan, suasana Pasar Baru Gresik berubah menjadi lautan hijau. Janur kuning daun kelapa muda itu mendominasi sudut-sudut pasar, dijajakan oleh para pedagang musiman yang memanfaatkan lonjakan permintaan masyarakat. Kupatan, tradisi yang digelar sepekan setelah Idul Fitri memicu geliat ekonomi kecil yang khas yaitu perburuan bahan baku ketupat.
Maisyaroh, pedagang janur kuning yang saban tahun menggelar lapak di pasar ini, mengaku sudah mulai menjual sejak sebelum Lebaran. Menurutnya, momen Hari Raya Idul Fitri dan Kupatan adalah waktu emas untuk meraup untung dari hasil penjualan janur. “Permintaan selalu tinggi. Masyarakat sudah punya jadwal bikin ketupat dua kali di waktu Lebaran dan Kupatan,” katanya, Sabtu (5/4).
Maisyaroh membanderol satu ikat besar janur kuning yang berisi sekitar 50 hingga 70 lembar dengan harga Rp 35 ribu. Sedangkan janur yang sudah dirangkai menjadi bentuk ketupat dijual Rp 15 ribu per ikat, berisi 4 hingga 5 buah.
Tak hanya pedagang yang sibuk, pembeli pun tampak antusias. Salah satunya Fatmala, warga Desa Tlogopojok, yang menyusuri pasar untuk mencari janur kuning. “Ketupat Lebaran kemarin sudah habis, jadi sekarang buat lagi untuk Kupatan,” ujar Fatmala.
Tradisi Kupatan bukan sekadar seremonial. Di Gresik, perayaan ini menjadi ajang silaturahmi lanjutan setelah Idul Fitri. Warga saling berbagi hidangan ketupat, lepet, dan sayur opor, sebagai simbol kebersamaan. Maka tak heran, setiap tahun pasar-pasar tradisional mendadak hijau oleh janur, dan ramai oleh aktivitas ekonomi warga.
Dengan model musiman seperti ini, janur kuning menjadi komoditas langka yang dinanti. Bagi pedagang seperti Maisyaroh, Kupatan bukan hanya tradisi, melainkan juga sumber rezeki. (*)








