KabarBaik.co, Blitar – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blitar mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak musim kemarau tahun 2026.
Imbauan tersebut disampaikan menyusul prakiraan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika yang memperkirakan musim kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dibandingkan kondisi normal.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Blitar Wahyudi, menyampaikan bahwa awal musim kemarau diperkirakan terjadi pada periode April hingga Mei 2026. Adapun puncak musim kemarau diprediksi berlangsung sekitar Agustus 2026.
Menurut Wahyudi, kondisi tersebut berkaitan dengan pengaruh fenomena iklim El Niño dengan intensitas lemah hingga moderat yang berpotensi menyebabkan curah hujan berada di bawah kondisi normal.
“Prediksi dari BMKG menunjukkan musim kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dari kondisi normal sehingga masyarakat perlu melakukan langkah antisipasi sejak dini,” ujarnya, Jumat (13/3).
Ia menjelaskan, salah satu dampak yang perlu diantisipasi adalah potensi kekurangan air bersih yang dapat berlangsung dalam waktu cukup lama. Berdasarkan prediksi yang diterima BPBD, periode kering diperkirakan berlangsung selama 16 hingga 24 dasarian atau sekitar lima hingga delapan bulan.
Selain berdampak pada ketersediaan air bersih, kondisi kemarau yang lebih kering juga berpotensi memengaruhi sektor pertanian. Berkurangnya debit air irigasi dikhawatirkan dapat mengganggu produksi pertanian hingga menimbulkan risiko gagal panen di sejumlah wilayah.
“Di sisi lain, potensi kebakaran hutan dan lahan juga meningkat seiring dengan kondisi cuaca yang lebih panas serta minimnya curah hujan selama musim kemarau,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD bersama pemerintah daerah mendorong masyarakat untuk mengoptimalkan penampungan air serta memanfaatkan pemanenan air hujan sebagai cadangan air bersih.
Selain itu, petani juga diimbau menyesuaikan pola tanam dengan memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kekeringan. Pemerintah daerah juga mulai menyiapkan skema distribusi air bersih bagi wilayah yang berpotensi mengalami krisis air.
“Dengan kesiapsiagaan sejak dini, diharapkan dampak musim kemarau terhadap kebutuhan air masyarakat maupun sektor pertanian dapat diminimalkan,” pungkas Wahyudi.(*)








