KabarBaik.co, Mataram – Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Denpasar, Zhang Zhisheng menegaskan bahwa pengetahuan merupakan faktor utama dalam memutus rantai kemiskinan, sekaligus menjadi fondasi penting dalam membangun kemandirian masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikannya dalam momentum kegiatan literasi di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang berlangsung di bulan suci Ramadan, sebagai bagian dari upaya memperkuat kolaborasi internasional di bidang pendidikan dan literasi.
“Satu-satunya cara membuat orang keluar dari kemiskinan adalah memberikan mereka pengetahuan. Jika mereka memiliki uang, mereka memiliki makanan, tapi setelah uang habis mereka akan kesulitan lagi. Dengan pengetahuan, mereka bisa membangun hidup sendiri,” ujar Zhang Zhisheng, Selasa (17/3).
Ia menjelaskan, pengalaman Tiongkok dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia tidak terlepas dari upaya panjang dalam memperluas akses pendidikan. Zhang menyebutkan, tingkat literasi di negaranya yang sebelumnya berada di bawah 10 persen, kini telah meningkat secara signifikan melalui kerja keras para pengajar dan dukungan pemerintah.
Selain menyoroti pentingnya pendidikan, Zhang juga mengangkat aspek kedekatan budaya antara Tiongkok dan Indonesia, khususnya dalam kehidupan umat Muslim. Ia menyampaikan bahwa terdapat sekitar 20 juta umat Muslim di Tiongkok yang didukung oleh lebih dari 40.000 masjid.
Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan harmoni kehidupan beragama di Tiongkok, sekaligus menjadi jembatan budaya yang dapat mempererat hubungan dengan masyarakat Indonesia, termasuk di NTB yang dikenal sebagai daerah dengan mayoritas penduduk Muslim.
Bunda Sinta Agathia M Iqbal menyambut baik kehadiran Konjen RRT sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan literasi di daerah. Ia menilai kolaborasi internasional dapat membuka peluang baru dalam pengembangan program literasi, khususnya bagi generasi muda.
“Harapannya, apa yang dibagikan dari teman-teman Konjen China di Denpasar ini bisa menambah semangat kita untuk terus bergerak. Kita ingin memperkenalkan gerakan literasi di NTB dan membuka peluang kerja sama ke depan,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB, Ashari, menyampaikan bahwa berbagai program literasi di NTB terus berkembang, termasuk pelaksanaan Kemah Literasi dan pengukuhan Bunda Literasi Desa di seluruh wilayah provinsi. Program tersebut dinilai mampu mendorong kreativitas masyarakat hingga ke tingkat desa.
Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan penyerahan bantuan buku secara simbolis kepada perwakilan 16 komunitas relawan literasi di Pulau Lombok. Momentum ini sekaligus menjadi ruang diskusi mengenai potensi kerja sama di bidang teknologi dan pendidikan antara NTB dan pihak Konsulat RRT.
Pemerintah daerah melalui Dinas Perpustakaan menyatakan kesiapan untuk menindaklanjuti rencana dukungan dari Konsulat Tiongkok, khususnya dalam pengembangan perpustakaan dan peningkatan minat baca masyarakat.
Ke depan, gerakan literasi di NTB diharapkan tidak hanya terfokus di Pulau Lombok, tetapi juga menjangkau wilayah Pulau Sumbawa, sehingga tercipta pemerataan akses pengetahuan sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia yang berkelanjutan.(*)








