Jelang Final FIFA Series 2026: Warisan Gelap Sepak Bola Bulgaria

oleh -249 Dilihat
Borislav Mihaylov
Borislav Mihaylov, (Foto IST)

MUSIM panas Piala Dunia FIFA 1994, dunia sepak bola tertegun. Bulgaria, tim yang tak pernah diunggulkan, melesat hingga semifinal. Hristo Stoichkov menjadi bintang dengan sepatu emas di kakinya. Masa itu adalah puncak keemasan sepak bola Bulgaria—sebuah kebanggaan nasional yang seolah menjanjikan masa depan cerah.

Namun, gemerlap itu tak berlangsung lama. Negeri Balkan tersebut justru menyelami salah satu babak paling kelam dalam sejarah olahraga Eropa. Bukan karena kekalahan di lapangan, melainkan karena pembunuhan, pengaturan skor, dan korupsi sistemik yang meracuni sepak bola dari dalam.

Runtuhnya rezim komunis pada 1989 membuka pintu bagi ekonomi yang nyaris tanpa kontrol. Para mantan pegulat jalanan dan preman berubah menjadi pengusaha “keamanan” swasta. Mereka menguasai bisnis ilegal—pemerasan, penyelundupan hingga narkoba. Untuk mencuci uang kotor itu, mereka membeli klub sepak bola. Sejak saat itu, stadion bukan lagi sekadar tempat bertanding, melainkan “medan perang” antarmafia.

Deretan Kematian Tak Berkesudahan

Tidak banyak liga sepak bola di Eropa yang mengalami gelombang kekerasan seperti Bulgaria antara pertengahan 1990-an hingga akhir 2000-an. Media investigasi OCCRP bahkan menjuluki periode ini sebagai Game of Control, sebuah perebutan kuasa berdarah.

Dimulai pada 1995, Georgi Kalapatirov, presiden Lokomotiv Plovdiv, ditembak tepat di jantung dekat mobilnya. Hanya beberapa bulan kemudian, rekannya sesama klub, Georgi Prodanov, tewas dalam kecelakaan mobil yang diduga direkayasa. Tiga tahun kemudian, Petrov yang dijuluki “The Crutch” tewas diterjang puluhan peluru dari senapan Kalashnikov di depan rumahnya sendiri.

Era 2000-an tak kalah kejam. Ilia Pavlov, pemilik Cherno More Varna, ditembak di kantornya di Sofia. Pada 2004, sepak bola ibu kota diguncang tiga pembunuhan beruntun: Stoil Slavov tewas dalam ledakan bom di lift, Milcho “Bai Mile” Bonev ditembak bersama lima pengawalnya di restoran klub, dan Dmitri “The Russian” Minev mati dengan satu peluru di kepala.

Puncak kekerasan terjadi pada 2005, ketika Lokomotiv Plovdiv kembali kehilangan tiga orang: Nikolai Popov-Martenitsata dipukuli lalu ditembak di Sofia; Georgi Iliev ditembak sniper di kawasan wisata Sunny Beach; dan Alexander Tasev-Ostap ditemukan tewas di dalam mobil mewahnya. Yang terakhir dalam daftar panjang ini adalah Yuriy Galev, presiden Rilski Sportist, yang ditembak lima kali pada 2010 dan meninggal setelah koma sepuluh hari.

Menurut laporan media dan investigasi OCCRP, sekitar 200 orang yang terkait dengan sepak bola Bulgaria—presiden klub, wasit, agen, dan ofisial—tewas dalam kurun waktu tersebut. Polisi dan jaksa saat itu dianggap lemah atau takut. Hingga kini, sebagian besar kasus tidak pernah terungkap secara tuntas.

Skandal Pengaturan Skor

Jika pembunuhan adalah sisi paling brutal, maka pengaturan skor adalah sisi lain kelicikan dari sepak bola. Kasus paling terkenal terjadi pada 2011, saat Federasi Sepak Bola Bulgaria (BFU) yang dipimpin Borislav Mihaylov menggelar laga persahabatan melawan Estonia. Pertandingan di Antalya, Turki, itu berakhir 2-2, dengan keanehan mencolok. Seluruh gol tercipta dari tendangkan penalti. FIFA dan UEFA kemudian menyelidiki laga tersebut karena diduga kuat terkait praktik pengaturan skor, dengan fokus pada peran perangkat pertandingan.

Setahun kemudian, skandal suap wasit mencuat. Menurut laporan media lokal, seorang striker klub liga mengaku bahwa pelatihnya menyuap wasit sebesar 6.000 Lev (sekitar Rp 50 juta) demi kemenangan. Klub itu menang 2-1, tetapi pelatih membantah tuduhan tersebut. Tanpa bukti kuat, kasus pun menguap.

Bahkan timnas kelompok umur tidak luput dari kabar serupa. Pada 2014, kiper timnas U-19 Bulgaria dilaporkan ditangkap karena mencoba menyuap rekan setimnya untuk sengaja kalah di Kejuaraan Eropa. Pelatih saat itu mengonfirmasi adanya pemain yang mengaku ditawari uang untuk “menjatuhkan” pertandingan.

Yang paling memicu kemarahan publik adalah investigasi kejaksaan pada 2022–2023, yang menemukan dugaan penggelembungan dana publik hingga 818.000 Lev (sekitar Rp 6.8 miliar). Dokumen proyek terkait dana tersebut bahkan dilaporkan “hilang” secara misterius.

Borislav Mihaylov: Presiden 18 Tahun di Tengah Skandal

Nama yang paling melekat dalam berbagai kontroversi adalah Borislav Mihaylov. Mantan kiper timnas Bulgaria itu menjabat sebagai Presiden BFU sejak 2005. Selama hampir dua dekade, tim nasional gagal lolos ke turnamen besar sejak UEFA Euro 2004 dan mengalami pergantian belasan pelatih yang terus berulang.

Puncak kemarahan publik terjadi pada 2022, ketika media investigasi lokal merilis foto Mihaylov bersama tokoh yang disebut terkait jaringan pengaturan skor internasional. Laporan tersebut memicu kontroversi luas, meski tidak pernah dikonfirmasi secara resmi oleh otoritas internasional.  Legenda Bulgaria, Dimitar Berbatov, termasuk yang paling vokal mengkritik kepemimpinan Mihaylov.

Tekanan publik mencapai puncaknya pada November 2023 saat laga kualifikasi UEFA Euro 2024 melawan Hungaria. Ribuan suporter turun ke jalan menuntut pengunduran diri. Bentrokan dengan aparat tak terhindarkan. Sebelas hari kemudian, pada 27 November 2023, Mihaylov akhirnya mundur, meski tetap mengklaim dirinya sebagai korban tekanan dan fitnah. Kabar terkini, ia dilaporkan terdera stroke.

Jalan Panjang Menuju Pemulihan

Pasca kepergian Mihaylov, kursi presiden diisi sementara oleh Mihail Kasabov. Reformasi mulai dijanjikan, meski jalan menuju pemulihan masih panjang. Di atas lapangan, kabar baik belum datang. Bulgaria tidak lolos ke Euro 2024 dengan rekor memalukan. Nol kemenangan, empat imbang, empat kali kalah. Terakhir kali mereka merasakan turnamen besar adalah Euro 2004, sudah dua dekade tanpa prestasi.

Jika masa lalu Bulgaria dipenuhi dentuman peluru dan bayang-bayang mafia, maka masa kini mereka justru terasa lebih sunyi. Namun, sejatinya tak kalah menyakitkan.

Di babak kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa, Bulgaria tergabung dalam Grup E bersama Spanyol, Turki, dan Georgia. Hanya empat tim. Format yang sederhana, tetapi justru memperjelas jurang yang kini memisahkan Bulgaria dari para pesaingnya.

Sejak awal, tanda-tanda kegagalan sudah tampak jelas. Kekalahan demi kekalahan datang tanpa perlawanan berarti. Dalam lima pertandingan, Bulgaria tak mampu meraih satu pun poin pun. Lini depan tumpul, lini belakang rapuh. Tim seperti berjalan tanpa arah, sekadar menjalani jadwal, bukan bersaing.

Statistik akhirnya berbicara tanpa ampun. Enam pertandingan, satu kemenangan, lima kekalahan, tanpa hasil imbang. Tiga poin menjadi satu-satunya pegangan, menempatkan mereka di dasar klasemen. Ironisnya, satu-satunya kemenangan datang di laga terakhir, saat segalanya sudah terlambat. Kemenangan 2-1 atas Georgia di Stadion Vasil Levski.  Tribun nyaris kosong, atmosfer hambar. Sebuah pemandangan yang lebih menyakitkan daripada kekalahan itu sendiri.

Kegagalan tersebut memperpanjang catatan kelam. Sejak tampil terakhir di Piala Dunia 1998, Bulgaria tak pernah lagi kembali ke panggung besar sepak bola dunia. Saat ini, Bulgaria masih menempati peringkat ke-87 dunia. Itu adalah posisi yang sangat jauh dari masa kejayaan mereka di peringkat ke-8 dunia pada 1995. Posisi yang terasa bayangan masa lalu.

Dan, pada akhirnya, muncul pertanyaan pantaskah mereka masih mersaa jemawa atau angkuh? (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.link yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.