KabarBaik.co, Bojonegoro – Suasana Hari Raya Idul Fitri selalu identik dengan kebersamaan, peluk hangat, dan saling memaafkan. Namun bagi para warga binaan di Lapas Kelas IIA Bojonegoro, momen itu hadir dalam balutan yang berbeda, namun tetap penuh haru.
Untuk menghadirkan nuansa Lebaran yang lebih bermakna, Lapas Bojonegoro kembali membuka layanan kunjungan khusus bagi keluarga warga binaan. Selama empat hari, mulai Sabtu (21/3) hingga Selasa (24/3), aula lapas disulap menjadi ruang temu yang sarat emosi.
Sejak pagi hari, para pengunjung berdatangan dengan wajah penuh harap. Mereka rela mengantre demi bisa bertemu orang terkasih, meski hanya dalam waktu terbatas. Tawa kecil bercampur air mata menjadi pemandangan yang tak terelakkan ketika pertemuan akhirnya terjadi.
Agar kunjungan tetap tertib dan nyaman, pihak lapas membagi waktu menjadi dua sesi setiap harinya. Sesi pagi berlangsung pukul 08.00 hingga 11.00 WIB, sementara sesi siang dimulai pukul 13.00 hingga 14.30 WIB. Pengaturan ini dilakukan untuk memastikan seluruh keluarga mendapat kesempatan yang sama.
Kepala Lapas Bojonegoro, Hari Winarca, menegaskan bahwa layanan ini merupakan bentuk komitmen untuk menghadirkan kehangatan Lebaran bagi warga binaan. “Kami ingin momen Lebaran ini tetap bisa dirasakan oleh warga binaan bersama keluarganya. Namun di sisi lain, keamanan dan ketertiban tetap menjadi prioritas utama,” ujarnya, Senin (23/3).
Di balik suasana haru tersebut, pengamanan tetap berjalan ketat. Pihak lapas bekerja sama dengan aparat kepolisian memastikan seluruh rangkaian kunjungan berlangsung aman. Setiap barang bawaan pengunjung diperiksa secara teliti guna mencegah masuknya barang terlarang.
Sejumlah aturan pun diberlakukan. Pengunjung hanya diperbolehkan membawa makanan siap santap dalam jumlah wajar. Barang seperti pakaian, handphone, narkoba, dan benda terlarang lainnya dilarang keras masuk ke dalam area lapas. Selain itu, kunjungan dibatasi hanya untuk keluarga inti yang terdaftar dalam satu Kartu Keluarga.
Meski penuh keterbatasan, momen singkat itu menjadi sangat berarti. Bagi warga binaan, kehadiran keluarga adalah pengingat bahwa harapan dan kehidupan di luar sana masih menanti. Sementara bagi keluarga, kunjungan ini menjadi cara untuk tetap menguatkan dan menjaga ikatan yang tak terputus oleh jarak maupun keadaan. (*)








