KabarBaik.co – Di tengah banyaknya keluhan soal jalan rusak, seorang warga Kediri justru memilih untuk bertindak. Dialah Heri Purnomo (53), warga Dusun Gamol, Desa Langenharjo, Plemahan, Kabupaten Kediri, yang sudah lebih dari tiga dekade berinisiatif menambal jalan berlubang dengan biaya pribadi.
Kisah Heri bermula sejak duduk di bangku SMA pada tahun 1991. Kala itu, ia sering melihat pengendara terjatuh akibat jalan berlubang. Dari situlah tekadnya muncul. Awalnya ia hanya menggunakan tanah, pasir, dan batu untuk menutup lubang.
Namun sejak tahun 2000-an, ia mulai menggunakan semen, hingga akhirnya beralih ke aspal setelah mendapat pengalaman saat menjadi perangkat desa pada 2010.
“Orang tua dulu sering bilang kalau ada duri atau batu di jalan tolong disingkirkan, pahalanya besar. Nah, saya berpikir kalau menyingkirkan saja pahalanya besar, apalagi menambal jalan,” tutur Heri sambil tertawa kecil kepada KabarBaik.co, Senin (22/9).
Biaya yang ia keluarkan pun tidak sedikit. Pada awalnya, semua ditanggung dari kantong pribadi. Harga aspal yang dulu masih di bawah Rp 1 juta per sak kini melonjak hingga Rp 2,3 juta. Meski begitu, Heri tak surut niat. Bahkan kini, banyak warga yang ikut membantu melalui donasi seikhlasnya, baik langsung maupun lewat transfer.
“Alhamdulillah, donasi warga terkumpul sekitar Rp 11 juta, masih utuh untuk kegiatan menambal jalan. Tapi kalau tidak ada bahan, ya saya beli sendiri,” jelasnya.
Heri biasanya bergerak setelah subuh untuk melakukan survei jalan rusak. Menggunakan motor roda tiganya, Heri berkeliling mencari dan memantau lubang yang ada di ruas jalan.
Radius wilayah yang ia survei bisa mencapai 15 kilometer, meliputi beberapa kecamatan di Kediri, bahkan hingga perbatasan Nganjuk. Setiap lubang yang ia temui langsung ditambal, meskipun kadang kalah cepat dengan Dinas PUPR yang juga melakukan perbaikan.
“Kalau saya bisa bantu, kenapa harus menunggu? Yang penting tidak ada orang celaka karena jalan rusak,” ujarnya.
Bagi Heri, aktivitas ini bukan sekadar rutinitas, tapi wujud kepedulian. Ia bahkan tak segan berbagi ilmu dengan warga desa lain yang ingin belajar cara menambal jalan.
“Selama masih diberi umur, ya saya akan terus menambal jalan ini,” pungkas Heri. (*)









