KabarBaik.co- Pekerjaan akan terasa menyenangkan bila lingkungan kerja kita sehat. Namun, bagaimana jika kita memiliki atasan toxic? Suka marah? Genit? Bahkan tidak kompeten? Apakah kita harus resign? Sebelum kamu terburu-buru memutuskan resign, ada banyaknya kamu tahu cara menghadapi atasan toxic, genit, mudah marah, dan tidak kompeten.
Terburu-buru untuk keluar dari kantor alias resign ketika memiliki atasan yang toxic bukanlah jalan keluar terbaik. Kita masih bisa menyikapinya dengan elegan agar tidak terlalu terbelenggu dengan sikap dan perilaku toxic dari atasan.
Ciri-ciri Bos yang Toxic:
- Tidak ingin dikriti
- mudah tersinggung
- Ekspektasi tidak realistis
- Otokrasi
Berikut beberapa cara menyikapi atasan toxic yang bisa kita coba;
- Coba Bangun Komunikasi dengan Atasan
Jika atasanmu sulit diajak komunikasi, kamu harus ambil langkah pertama. Cobalah tanyakan sebanyak mungkin pertanyaan sampai kamu paham dengan jelas apa yang dia inginkan dan harapkan dari kamu dalam pekerjaan. Jika memungkinkan, coba bangun komunikasi tatap muka ketimbang lewat chat atau email.
- Cobalah untuk Memahami dan Bukan memaafkan
Cobalah untuk memahami keadaan di setiap perilaku beracun yang atasan terapkan pada kita atau tim. Mungkin cara terbaik menyikapinya adalah dengan menawarkan solusi yang bisa memberikan mereka untuk mengurangi perilaku “menekan” pada orang lain.
- Menjalin Koneksi Lain:
Jika sudah terjebak dengan situasi yang memberatkan kita dalam bekerja, cobalah menjalin koneksi lain. Bisa dengan atasan atau rekan kerja di lain divisi, atau membangun koneksi di luar pekerjaan. Membina hubungan baik ini bisa menjadi pintu baru bagi peluang karier kita yang lebih cemerlang. Atau paling tidak, hubungan baik ini bisa meningkatkan produktivitas kita dalam bekerja yang tidak pernah merasa bahagia berada di divisi bersama dengan atasan toxic.
- Fokus pada Pekerjaan:
Meskipun sulit, cobalah untuk tetap fokus pada pekerjaan. dengan tidak terlalu memikirkannya. Tunjukkan prestasi yang baik dan tetaplah fokus pada apa yang kamu kerjakan. Hal ini karena, bos toxic hanya ini bawahannya selalu menuruti apa yang ia mau.
Jadi, bila kamu melakukan tugas dengan baik dan mengikuti arahannya, maka atasanmu tidak akan mengintimidasi. Walau tetap merasa kesal, namun cobalah mengabaikan saja dan tetap fokus pada pekerjaan. Dengan begitu, pikiranmu tidak hanya akan terpaku pada perlakuan atasanmu saja.
- Konsultasikan dengan HRD:
Jika komunikasi dengan bos tidak membuahkan hasil, meminta bantuan ke tim HRD mungkin dapat membantu menyelesaikan masalah, tapi ingat, kalau bisa dokumentasikan semua perilaku toxic dari atasan yang benar-benar mengganggu kinerja kita selama ini. Jangan sampai mengutarakan hal-hal yang tampak hanya menyelamatkan diri sendiri. Paling tidak kita bergerak meminta bantuan ke divisi lain agar terlihat seperti sedang menyelamatkan “satu kapal”.
- Pertimbangkan Opsi Lain:
Selain resign, kalian juga bisa mempertimbangkan untuk meminta pindah ke departemen lain atau mencari mentor di perusahaan.
- Resign Pada Waktu yang Tepat
Jika kita sudah kehabisan semua opsi lain yang membuat kita semakin nyaman dan tenang dalam bekerja, maka resign di waktu yang tepat bisa menjadi pilihan. Mengapa di waktu yang tepat? Para ahli karier menyarankan agar tidak terburu-buru keluar dari pekerjaan tanpa ada pekerjaan baru yang sudah kita tanda-tangani. Paling tidak ikuti regulasi kantor untuk bisa resign, misalnya H-30 atau H-3 bulan sesuai dengan kebutuhan kantor. Setelah mendapatkan peluang kerja baru, jangan lagi ingat-ingat kelakuan bos yang toxic ini supaya kita bisa lebih bahagia dalam meniti karier.
Kesimpulan:
Menghadapi bos yang toxic memang tidak mudah, namun dengan pendekatan yang tepat, bisa mengatasi situasi ini tanpa harus langsung resign. Ingatlah, kalian semua berhak bekerja di lingkungan yang sehat dan nyaman.








