KabarBaik.co – Kabupaten Pasuruan menutup lembaran tahun 2025 dengan sebuah catatan kesehatan sosial yang memprihatinkan. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, wilayah yang masyhur dengan julukan Kota Santri ini justru bertengger di posisi peringkat kelima tertinggi di Jawa Timur dalam temuan kasus HIV/AIDS.
Data BPS tersebut merinci adanya 178 kasus baru yang terdeteksi di Kabupaten Pasuruan. Munculnya angka ini di tengah kuatnya nilai-nilai religiusitas daerah menjadi ironi besar, sekaligus menjadi cermin retaknya jaring edukasi dan kontrol sosial di masyarakat.
Kondisi ini memicu keprihatinan mendalam dari Aliansi BEM Pasuruan Raya. Presiden Mahasiswa (Presma) Akbid Sakinah, Hasna, yang tergabung dalam aliansi tersebut menilai data 178 kasus ini sebagai kado pahit dan bukti nyata bahwa literasi kesehatan reproduksi masih menjadi tantangan besar di Pasuruan.
“Sebagai daerah santri, angka ini adalah data yang sangat miris untuk menutup tahun, kita tidak bisa terus menutup mata hanya karena menganggap edukasi kesehatan itu tabu, sementara realitas pergaulan bebas di lapangan sudah kian mengkhawatirkan,” ungkap Hasna, Kamis (1/1).
Sebagai mahasiswa kesehatan, Hasna melihat ada gap besar antara nilai-nilai agama yang dijunjung dengan realitas perilaku kesehatan di lapangan, dengan bukti tingginya angka penderita atau terjangkit virus mematikan tersebut. “Kita tidak bisa terus bersembunyi di balik identitas daerah jika faktanya edukasi kesehatan reproduksi kita masih sangat tertinggal,” tambahnya.
Senada dengan itu, Koordinator Aliansi BEMPAS Raya, M. Ubaidillah Abdi, menyebut peringkat lima besar se-Jawa Timur ini sebagai tamparan bagi wajah sosial Pasuruan di penghujung tahun 2025. “Ini adalah catatan merah bagi kita semua. Peringkat lima se-Jatim menunjukkan bahwa kontrol sosial di Bumi Santri ini sedang mengalami kebocoran,” tegas Ubaidillah.
Aliansi BEMPAS Raya mengajak seluruh lapisan masyarakat mulai dari tokoh agama, tenaga kesehatan, akademisi, hingga pemuda untuk membuang ego dan stigma guna menghadapi krisis ini bersama-sama. Data miris tersebut adalah panggilan untuk semua pihak agar berhenti saling menyalahkan dan mulai berkolaborasi, membuka ruang edukasi seluas-luasnya dan memberikan pendampingan.
“Mari kita jadikan momentum akhir tahun ini sebagai titik balik untuk berbenah bersama, demi menjaga martabat daerah santri dan memastikan keselamatan generasi masa depan Pasuruan,” pungkas Ubaidillah. (*)








