KabarBaik.co- Seperti jauh hari ditulis redaksi KabarBaik.co, KH Zulfa Mustofa akhirnya ditetapkan sebagai Pejabat (Pj) Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ulama kelahiran Jakarta pada 1977 itu menggantikan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), yang telah diberhentikan pengurus Syuriah PBNU per 26 November lalu, setelah sebelumnya tidak mau mundur.
Keputusan memilih KH Zulfa Mustofa sebagai Pj Ketua Umum PBNU diambil melalui rapat pleno Syuriah dan Tanfidziah PBNU di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (9/12). “Penetapan Penjabat Ketua Umum PBNU masa bakti sisa sekarang, yaitu yang mulia beliau KH Zulfa Mustofa. Karena itu, beliau akan memimpin PBNU sebagai Penjabat Ketua Umum melaksanakan tugas-tugasnya sampai Muktamar,” kata Prof M. Nuh, Rais Syuriyah PBNU, dalam jumpa pers.
Mantan Rektor ITS itu menyebut, pelaksanaan Muktamar ke-35 NU bakal disesuaikan waktunya. Bukan dimajukan atau dipercepat. Sebab, sejatinya Muktamar ke-34 NU di Lampung yang digelar itu 23-25 Desember 2021 itu terhitung mundur 1 tahun dari jadwal semestinya. Sebab, kondisi Covid-19. ’’(Mukatmar ke-35) Dikembalikan pada siklus semula. Sebelum Hari Raya Haji, insya Allah sudah dilakukan,’’ ujarnya. Jika demikian, masa jabatan KH Zulfa Mustofa sebagai Pj Ketua Umum PBNU paling tidak hanya 6 bulan saja.
Sementara itu, KH Zulfa Mustofa menyatakan akan menjalankan amanah yang diputuskan dalam rapat pleno PBNU. ’’Malam ini sebagaimana kita semua ketahui rapat pleno telah menetapkan alfaqir, menetapkan diri saya sebagai Penjabat Ketua Umum,” katanya pada sambutan.
Dalam kesempatan tersebut, dia menyampaikan, tidak mau menjadi bagian konflik masa lalu. Tapi, pihaknya ingin menjadi solusi jamiyyah di masa depan. Karena itu, KH Zulfa Mustofa mengajak pengurus NU, mari kita bersatu kembali di rumah besar ini.
Saat rapat pleno, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dalam sambutannya juga mengucapkan terima kasih kepada Gus Yahya atas pengabdiannya dan menuangkan pemikiran-pemikirannya selama empat tahun terakhir. “Kita semua masih bersaudara. Mudah-mudahan ada perbaikan untuk muktamar yang akan datang,” ungkap mantan ketua umum MUI Pusat itu.
Silsilah KH Zulfa Mustofa
KH Zulfa Mustofa, lahir di Jakarta pada 7 Agustus 1977. Ia merupakan salah seorang ulama muda di lingkungan NU yang dikenal sebagai pendakwah, penulis, ulama, dan aktivis organisasi. Sosoknya memiliki nasab yang terbilang ’’darah biru’’, menghubungkannya dengan tokoh sentral dalam sejarah keulamaan Indonesia.
Secara kekerabatan, KH Zulfa Mustofa adalah keponakan kandung dari mantan Wakil Presiden RI KH Ma’ruf Amin. Sebab, bunda KH Zulfa Mustofa, yakni Nyai Hajjah Marhumah Latifah, merupakan saudara kandung langsung dari KH Ma’ruf Amin.
Silsilah KH Zulfa Mustofa juga menjangkau lebih jauh ke belakang, tersambung kepada ulama dunia asal Indonesia yang pernah menjadi Imam Besar Masjidil Haram. Yakni, Syekh Nawawi al-Bantani. KH Zulfa Mustofa berstatus sebagai cucu/cicit kemenakan dari Syekh Nawawi, di mana nasabnya bersambung melalui kakeknya, Syaikh Abdullah ibn Umar, yang merupakan saudara kandung dari Syaikh Nawawi al-Bantani. Keterangan mengenai silsilah itu bahkan juga didokumentasikan dalam karya KH Zulfa Mustofa, yang berjudul Tuhfatul Qashi wa Dani.
Sosok menarik KH Zulfa Mustofa tidak hanya terletak pada garis keturunannya. Dia juga memperkuat sanad keilmuan dengan menimba ilmu langsung dari ulama kharismatik dan Ulam Fiqih Sosial kontemporer, KH A. Sahal Mahfudh. KH Zulfa Mustofa pernah menjadi santri di Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, Jawa Tengah, di bawah asuhan KH Sahal Mahfudh yang merupakan Rais Aam PBNU (1999-2014).
Dengan perpaduan antara nasab yang kuat dan jalur pendidikan yang jelas, KH Zulfa Mustofa memegang peran penting sebagai pewaris tradisi keulamaan NU. Apakah kelak akan menjadi ketua umum PBNU? Wallahu A’lam. (*)








