Revolusi Visual Ghibli Berkat AI, Kemajuan Kreatif atau Ancaman bagi Seniman

oleh -18 Dilihat
ghibli
Aristarchus Pranayama, dosen International Program in Digital Media (IPDM) Petra Christian University (PCU),

KabarBaik.co – Transformasi digital terus menghadirkan kejutan, salah satunya dengan kehadiran Artificial Intelligence (AI) yang mampu mengubah foto biasa menjadi visual bernuansa Ghibli yang memukau. Namun, di tengah kemudahan ini, muncul pertanyaan mendalam: apakah inovasi ini merupakan langkah maju dalam dunia seni, atau justru ancaman bagi keberlangsungan seni orisinal?

Aristarchus Pranayama K., BA., MA., dosen International Program in Digital Media (IPDM) Petra Christian University (PCU), memberikan pandangannya. Menurut Aris, tren ini lebih bersifat sementara. “Orang-orang terpukau oleh kemudahan dan hasil yang menakjubkan, namun itu hanya sebuah fase,” ungkapnya, Selasa (6/5).

Ia menegaskan bahwa gaya Ghibli sudah begitu kokoh dan mendunia, sehingga tak mudah tergantikan oleh teknologi AI yang masih baru. Kemudahan yang ditawarkan AI menimbulkan kekhawatiran tentang hak cipta. Namun, Aris menjelaskan, “Gaya tidak bisa dipatenkan, tetapi kualitas dan orisinalitas tetap harus dijaga.”

Menurutnya, karya animasi seperti produksi Studio Ghibli melibatkan kolaborasi tim besar, sehingga ancaman terhadap hak cipta akibat AI dianggap kurang relevan.

Lebih lanjut, Aris menekankan potensi AI sebagai alat bantu. “AI bisa meningkatkan efisiensi kerja animator dan ilustrator, seperti dalam pembuatan storyboard atau konsep awal. Namun, penggunaannya harus bijaksana,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa AI sebaiknya tidak menggantikan proses kreatif secara keseluruhan. “Kita yang harus mengontrol AI, bukan sebaliknya,” tegasnya.

Aris, yang memiliki latar belakang di bidang visual arts, visual thinking, dan 3D modelling, menilai bahwa AI hanya mampu menghasilkan tampilan visual. Namun, aspek cerita dan emosi tetap membutuhkan sentuhan manusia. “AI dapat menciptakan gambar yang menarik, tetapi tidak mampu menghasilkan cerita utuh dengan karakter yang mendalam,” jelasnya.

Menurut Aris, AI lebih merupakan peluang daripada ancaman. Teknologi ini membuka ruang bagi profesional untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan baru. “Namun, penggunaan AI harus tetap bertanggung jawab agar kualitas seni dan etika berkarya tidak dikorbankan,” tutupnya.

Dengan demikian, fenomena ini menjadi ajang refleksi bagi para seniman dan pelaku industri kreatif. AI bukanlah pengganti manusia, melainkan alat yang dapat memperkaya proses penciptaan seni jika digunakan secara tepat.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.link yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.