KabarBaik.co- Jenazah Benny Laos, calon Gubernur (Cagub) Maluku Utara (Malut) nomor urut 4, Minggu (13/10) telah tiba di Rumah Duka dan Krematorium Sentosa Jakarta. Rencananya, jenazah mantan Bupati Moratai itu disemayamkan hingga Selasa (15/10), sebelum dimakamkan di Taman Pemakaman San Diego Hills.
Sebelumnya, jenazah Benny Laos diterbangkan dari Bobong, Taliabu, menuju Luwuk, Sulawesi Tengah, menggunakan helikopter. Lalu, diterbangkan menggunakan pesawat carter ke Jakarta dan tiba pukul 17. 00 WIB. Hadir di rumah duka sejumlah tokoh. Di antaranya, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI Jenderal (Pur) Tito Karnavian, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko. Selain itu, tampak beberapa petinggi parpol.
Dalam keterangannya kepada awak media di Rumah Duka Sentosa Jakarta, Tito mengaku sangat terkejut mendengar kabar kecelakaan yang merenggut nyawa sahabatnya tersebut. Tito menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Benny Laos. Dia mengaku telah bersahabat dengan selama 20 tahun. “Saya merasa sangat kehilangan. Dia adalah seseorang yang sangat setia kepada kawan, selalu membela kawan, dan tidak bisa melihat orang susah. Dia ingin bantu,” ungkapnya,
Tito mengenang awal perkenalannya dengan Benny Laos sekitar awal 2000-an. Saat itu, ia masih berpangkat AKBP. Persahabatannya terus terjalin erat melalui aktivitas santai seperti minum kopi dan bermain golf. Di mata Tito, Benny Laos merupakan seorang sosok yang mudah bergaul, cepat menjalin pertemanan dengan siapa saja.
Mantan Kapolri itu juga mengingat saat Benny Laos memutuskan hendak mencalonkan diri sebagai bupati Morotai. Awalnya, ia sempat meragukan langkah tersebut. Namun, keyakinannya berubah setelah melihat sendiri pembangunan nyata yang dilakukan Benny Laos di daerah tersebut.
Benny Laos, lanjut Tito, dikenal sebagai pemimpin berintegritas. Konsisten dalam memastikan APBD digunakan secara tepat. Fokus Benny Laos selalu pada kesejahteraan masyarakat. Terutama bagi kalangan kurang mampu. Tito juga ingat Benny Laos juga sering meminta pendapat tentang tata kelola pemerintahan. Benny Laos juga selalu menunjukkan tekad besar untuk memajukan Malut.
Istri Tercinta Sempat Melarang
Sherly Tjoanda, istri mendiang Benny Laos, mengungkapkan sempat melarang suaminya untuk berkunjung ke Kabupaten Pulau Taliabu. Sebab, ia melihat semua infrastruktur di wilayah setempat masih terbatas. Akses pun masih sulit. Namun, Benny Laos tetap bersikukuh untuk ke Taliabu.
“Saya sudah bilang jangan datang di Taliabu, semuanya terbatas di sana, tapi Bapak (Benny Laos, Red) tetap ngotot mau datang, mau lihat, mau ketemu langsung,” kata Sherly dalam video yang beredar, Minggu (13/10).
Sherly juga mengeluhkan fasilitas kesehatan di Taliabu. Karena itu, penanganan pertama untuk suaminya seusai insiden terjadi pada Sabtu (12/10) dinilai tak maksimal karena terkendala fasilitas. Sherly fasilitas kesehatan di Kabupaten Taliabu sangat tidak layak.
Obat yang digunakan untuk pertolongan pertama habis. Alat bantu pernapasan dan detak jantung tidak memadai. Dia pun harus menahan sakit akibat luka bakar selama 24 jam. “Ini fasilitas kesehatan sangat tidak layak, airport (bandara) tidak ada, alat-alat di rumah sakit masih terbatas,” kata Sherly. (*)








