KabarBaik.co – Sepanjang 2025, banjir masih menjadi bencana yang paling sering melanda Sidoarjo. Setiap musim hujan, genangan air kembali muncul di sejumlah wilayah, menandakan persoalan banjir di Kota Delta belum tuntas.
Beberapa kecamatan tercatat sebagai langganan banjir, di antaranya Waru, Tanggulangin, Candi, Porong, Sedati, hingga sebagian wilayah Sidoarjo Kota. Intensitasnya beragam, mulai dari genangan ringan hingga banjir yang melumpuhkan aktivitas warga.
Desa Kedungbanteng, Tanggulangin, menjadi wilayah dengan dampak terparah sepanjang 2025. Tinggi air dan lamanya genangan menjadikan desa ini sorotan utama dalam catatan banjir Sidoarjo.
Pada puncak kejadian, air merendam permukiman warga hingga setinggi lutut orang dewasa. SMPN 2 Tanggulangin turut terdampak, membuat aktivitas sekolah tidak berjalan normal.
Genangan air juga menutup sejumlah ruas jalan desa. Akses warga terganggu dan banyak pengendara sepeda motor terpaksa mendorong kendaraannya akibat mogok.
Banjir berdampak langsung pada dunia pendidikan. Kegiatan belajar mengajar di SMPN 2 Tanggulangin harus dilakukan secara daring, termasuk saat pelaksanaan ujian Sumatif Akhir Semester (SAS).
Warga menyebut banjir 2025 sebagai yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Curah hujan tinggi, luapan sungai, serta buruknya drainase membuat air cepat naik namun lama surut.
Pemkab Sidoarjo merespons dengan menyiagakan tim penanganan banjir. Dapur umum dan MCK darurat disediakan untuk membantu kebutuhan dasar warga terdampak.
Plt Kepala BPBD Sidoarjo Sabino Mariano mengakui banjir masih menjadi persoalan klasik di Tanggulangin. Faktor geografis membuat wilayah ini hampir selalu terdampak saat musim hujan.
“Tanggulangin memang langganan banjir setiap tahun. Namun pemerintah tetap berupaya hadir melalui penanganan darurat dan pelayanan bagi warga,” ujar Sabino, Kamis (01/01).
Selain langkah darurat, Pemkab Sidoarjo menyiapkan solusi jangka menengah dan panjang. Pembangunan rumah pompa di Kedungpeluk serta rencana bozem di Waru dan Sidoarjo diharapkan mampu mengurangi risiko banjir.
Catatan banjir sepanjang 2025, dengan Kedungbanteng sebagai titik terparah, menjadi pengingat penting bagi pemerintah daerah. Warga berharap upaya pengendalian banjir segera terealisasi agar masalah tahunan ini bisa ditangani lebih efektif. (*)








