KabarBaik.co — Upaya masyarakat Ploso, Jombang, untuk memperjuangkan penetapan Situs Kelahiran Bung Karno sebagai cagar budaya terus menunjukkan perkembangan positif.
Hal ini terlihat dalam pertemuan Tim Ahli Bupati Jombang, Irfan Kharisma dan Medan Amrullah, dengan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang, Camat Ploso, perwakilan Situs Persada Soekarno Kediri, serta tokoh masyarakat Jombang dan Ploso.
Pertemuan yang berlangsung di Sekretariat Titik Nol Soekarno, Gang Buntu, Desa Rejoagung, dihadiri Kepala Desa Rejoagung dan Kepala Desa Losari. Suasana diskusi berlangsung hangat dan penuh semangat.
Dalam kesempatan tersebut, TACB Jombang memaparkan perjalanan panjang dan dinamika perjuangan mereka dalam mengupayakan legitimasi Situs Kelahiran Bung Karno di Ploso. Mulai dari pengumpulan data sejarah hingga audiensi dengan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, beberapa waktu lalu.
Sementara itu, Tim Ahli Bupati Jombang menyampaikan sejumlah skema yang dapat dilakukan masyarakat dan pemerintah daerah sambil menunggu proses penetapan resmi situs tersebut sebagai cagar budaya.
Medan Amrullah menilai, pertemuan ini menjadi bukti kuat bahwa perjuangan masyarakat Ploso semakin solid dan berkelanjutan.
“Semangat masyarakat Ploso makin menguat. Perjuangan teman-teman TACB yang sudah bersilaturahmi hingga ke kementerian juga luar biasa,” ujar Medan dalam keterangannya Rabu (7/1).
Ia berharap seluruh masyarakat Jombang dapat bersatu mendukung keyakinan bahwa Ploso merupakan titik nol sekaligus tempat kelahiran Presiden pertama RI, Soekarno.
“Ini bukan perjuangan satu kelompok, tapi perjuangan bersama,” katanya.
Ketua TACB Jombang, Nasrul Ilah atau Cak Nas, menyebut pertemuan tersebut sebagai entry point penting untuk mempercepat pengembangan dan penguatan eksistensi Situs Kelahiran Bung Karno.
“Optimisme kita semakin besar. Sebenarnya semua pihak sudah yakin. Kalau ada hambatan, lebih bersifat psikologis,” ujar Cak Nas.
Menurut dia, tantangan ke depan adalah memperkuat kekompakan dan kreativitas, terutama dalam membangun branding situs, baik secara fisik maupun narasi sejarah.
Cak Nas juga menyinggung identitas khas Jombang yang dikenal dengan istilah “Ijo-Abang”. Jika Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) merepresentasikan identitas “ijo”, maka Bung Karno, sebagai Presiden pertama RI, merepresentasikan “abang”.
“Menariknya, dua tokoh besar bangsa ini sama-sama lahir di Jombang. Ini memperkuat identitas kultural Jombang sebagai Ijo-Abang,” ujarnya.
Berdasarkan data tertulis dan penuturan sejarah yang dihimpun TACB Jombang bersama para penelusur sejarah, Bung Karno diyakini lahir di Ploso, Jombang, pada 6 Juni 1902.
Pada 2024 lalu, TACB Jombang juga telah mengeluarkan rekomendasi resmi agar Situs Kelahiran Bung Karno di Ploso ditetapkan sebagai cagar budaya. (*)








