KabarBaik.co, Surabaya – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Jawa Timur bersama Kadin Institute dan PT Media Hati menggelar Halal Bihalal bertema Transformasi Diri dalam Bingkai Silaturahmi: Bekerja dengan Hati, Melayani Sesuai Kompetensi di Aula Hotel Santika Premiere Gubeng, Surabaya.
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi pasca-Idul fitri, tetapi juga dimanfaatkan sebagai momentum untuk mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), khususnya melalui sertifikasi kompetensi di kalangan pelaku industri.
Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, menegaskan bahwa agenda tahunan tersebut memiliki makna strategis dalam memperkuat kolaborasi di tengah ketidakpastian global yang berdampak pada dunia usaha dan ketenagakerjaan.
Menurutnya, kondisi global saat ini menuntut dunia industri untuk semakin adaptif, terutama dalam menyiapkan tenaga kerja yang kompeten dan berdaya saing.
“Momentum ini penting untuk mempererat silaturahmi, memperkuat kolaborasi, sekaligus mengonsolidasikan langkah bersama menghadapi tantangan global,” ujarnya, Selasa (31/3).
Adik menambahkan, keberhasilan program hilirisasi yang menjadi fokus pemerintah, baik di sektor pangan maupun energi, sangat ditentukan oleh kualitas SDM. Ia menyebut, kontribusi SDM dalam mendukung hilirisasi mencapai 60 hingga 70 persen.
“Hilirisasi tidak akan berjalan optimal tanpa didukung tenaga kerja yang kompeten,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang SDM dan Tenaga Kerja Kadin Jatim sekaligus Direktur Kadin Institute, Nurul Indah Susanti, menekankan pentingnya sertifikasi kompetensi sebagai langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja.
Ia menjelaskan, kegiatan ini menjadi sarana untuk mendorong pelaku industri agar lebih aktif menyelenggarakan sertifikasi bagi karyawan mereka.
“Dengan kompetensi teknis yang terstandar, produktivitas tenaga kerja akan meningkat. Ini momentum yang harus dimanfaatkan untuk membangun Jawa Timur secara bersama-sama,” katanya.
Di sisi lain, Komisioner Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Miftahul Aziz, menyoroti masih rendahnya produktivitas tenaga kerja Indonesia dibandingkan negara lain. Dari 67 negara, Indonesia saat ini berada di peringkat ke-46.
“Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi kita semua untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja nasional,” ujarnya.
Ia menambahkan, kolaborasi antara dunia industri, lembaga sertifikasi profesi (LSP), dan asesor menjadi kunci dalam menjawab tantangan tersebut, khususnya di Jawa Timur.
Selain itu, persoalan kesenjangan keterampilan (skill gap) serta belum optimalnya keterkaitan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri (link and match) juga perlu segera diatasi.
Miftahul menekankan pentingnya peningkatan kapasitas asesor kompetensi, sekaligus mendorong kesiapan menghadapi perkembangan jenis pekerjaan baru, termasuk di sektor ekonomi hijau (green jobs) dan teknologi.
“Ke depan, kita harus adaptif terhadap perubahan, termasuk perkembangan pekerjaan di sektor hijau dan teknologi yang semakin berkembang,” pungkasnya.






